Bos Nvidia Bertemu Pejabat China di Tengah Ketegangan Teknologi AS-China
Teknologi
Kecerdasan Buatan
10 Jul 2025
137 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Jensen Huang akan bertemu dengan pejabat Cina untuk membahas akses ke pasar semikonduktor.
Nvidia menghadapi tantangan dalam konflik teknologi antara AS dan Cina.
Upaya Washington untuk membatasi teknologi semikonduktor Cina dinyatakan gagal oleh CEO Nvidia.
Jensen Huang, co-founder dan CEO Nvidia, akan mengunjungi Beijing untuk menghadiri International Supply Chain Expo dan bertemu dengan pejabat tinggi China, termasuk menteri perdagangan. Kunjungan ini menunjukkan komitmen Nvidia untuk mempertahankan akses ke pasar semikonduktor terbesar di dunia di tengah ketegangan antara AS dan China.
Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor teknologi canggih ke China, termasuk pembatasan Nvidia menjual chip AI tingkat tinggi ke pasar China. Hal ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menghambat perkembangan teknologi China.
Nvidia hanya diizinkan menjual produk grafis kelas bawah yang difokuskan untuk gaming di China saat ini, namun Jensen Huang tetap menentang kebijakan tersebut dan menganggapnya gagal karena memberikan keuntungan tidak adil kepada pesaing lokal seperti Huawei.
Huang sering mengunjungi China dan dikenal sebagai pendukung penting akses perusahaan teknologi AS ke pasar China. Kunjungan kali ini juga terjadi di acara besar yang sering dihadiri tokoh teknologi internasional seperti Tim Cook dari Apple.
Meski belum jelas apa agenda spesifik Huang dalam pertemuan dengan pejabat China, langkah ini menunjukkan Nvidia ingin menjalin dialog dan memahami posisi regulasi di tengah persaingan teknologi global yang ketat.
Analisis Ahli
Kara Swisher, jurnalis teknologi ternama
Langkah Huang mencerminkan ketegangan geopolitik yang makin memengaruhi bisnis teknologi global. Nvidia harus menyeimbangkan tekanan dari pemerintah AS sekaligus menjaga akses ke pasar besar Tiongkok untuk tetap relevan di industri AI.Pei Huang, analis pasar Asia teknologi
Kunjungan Huang berpotensi membuka negosiasi penting soal ekspor teknologi yang selama ini tersendat, tapi keberhasilannya tetap bergantung pada kebijakan politik kedua negara yang masih sulit diprediksi.


