Kontroversi dan Strategi Baru Cluely: Dari Alat Curang ke Pesaing ChatGPT
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
10 Jul 2025
137 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Cluely memanfaatkan AI untuk analisis percakapan online dan memiliki fitur 'tidak terdeteksi'.
Truely diluncurkan sebagai alat untuk mendeteksi penipuan yang dilakukan dengan Cluely.
Roy Lee memiliki ambisi untuk menjadikan Cluely sebagai pesaing utama ChatGPT dalam teknologi AI.
Cluely adalah startup AI yang memungkinkan analisis percakapan online lewat jendela tersembunyi di browser. Mereka sempat menjadi sorotan karena mengklaim fitur yang membuat pengguna bisa curang tanpa terdeteksi di berbagai situasi, termasuk tes coding.
Roy Lee, salah satu pendiri Cluely, pernah diskors dari kampusnya karena mengaku menggunakan aplikasi ini untuk menyontek dalam seleksi pekerjaan di Amazon. Hal ini menimbulkan kontroversi dan diskusi seputar etika penggunaan teknologi.
Sebagai tanggapan, seorang mahasiswa Columbia bernama Patrick Shen mengembangkan Truely, aplikasi yang bertujuan mendeteksi dan mencegah penggunaan Cluely dalam pertemuan online sebagai alat anti-kecurangan.
Cluely mengubah pendekatan pemasaran setelah mendapatkan investasi besar, menghilangkan promosi 'curang' dan lebih menekankan fitur membantu pengguna. Mereka juga berencana menjadi alternatif utama selain ChatGPT dengan fitur yang lebih peka terhadap konteks layar dan suara pengguna.
Meskipun teknologi ini menimbulkan berbagai pertanyaan legal dan etis, perusahaan tetap optimis untuk berkembang dan fokus pada transparansi penggunaan oleh penggunanya sambil menghadapi persaingan dari produk deteksi seperti Truely.
Analisis Ahli
Andrew Ng
Penggabungan data audio dan visual untuk AI sangat menarik secara teknis, tapi tantangan privasi dan etika harus diperhatikan secara serius oleh pengembang teknologi ini.Cathy O’Neil
Alat seperti Cluely sangat berbahaya jika dipakai tanpa aturan yang jelas, karena dapat memperparah ketidakadilan di dunia pendidikan dan perekrutan kerja.Fei-Fei Li
Inovasi ini menunjukkan potensi AI untuk melengkapi interaksi digital, namun harus diimbangi dengan kebijakan yang melindungi hak-hak pengguna.