TLDR
Teknik DES memungkinkan pengukuran radioaktivitas yang lebih cepat dan akurat. Penggunaan sensor transisi memberikan detail yang lebih baik tentang isotop radioaktif yang ada. Proyek TrueBq berpotensi merevolusi standar pengukuran radioaktivitas di berbagai bidang. Para peneliti di National Institute of Standards and Technology mengembangkan metode baru yang disebut cryogenic decay energy spectrometry (DES) untuk mendeteksi radioaktivitas dengan cepat dan tepat. Metode ini mampu mengukur radioaktivitas pada sampel sangat kecil dengan waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan teknik lama yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.Inti dari teknologi ini adalah penggunaan alat canggih bernama transition-edge sensor (TES) yang beroperasi di suhu sangat rendah, hampir mendekati nol mutlak. TES tidak hanya mendeteksi keberadaan radioaktivitas, tapi juga memberikan data detail tentang energi yang dilepaskan oleh peluruhan radioaktif.Untuk mengambil sampel kecil, tim menggunakan alat inkjet khusus yang mampu meneteskan droplet seberat kurang dari satu juta gram. Sampel ini kemudian ditempatkan di foil emas tipis dengan nanopori agar menyerap cairan secara sempurna. Selanjutnya, TES akan mengukur energi peluruhan dan tim bisa menghitung radioaktivitas per satuan massa dengan akurat.Teknologi ini sangat bermanfaat untuk kasus seperti identifikasi isi barrel radioaktif yang belum diketahui, dimana waktu dan ketepatan menjadi hal penting. Selain menghemat waktu, metode ini mengurangi kebutuhan proses kimia rumit serta penggunaan bahan kalibrasi tambahan.Inovasi ini menjadi bagian dari proyek True Becquerel (TrueBq) yang bertujuan merevolusi cara pengukuran dan standarisasi radioaktivitas. Ke depan, peneliti berencana mengembangkan versi portable dari teknologi DES agar bisa digunakan di rumah sakit, pabrik nuklir, dan lokasi lingkungan secara lebih luas.