Kampanye Disinformasi China untuk Menjatuhkan Jet Tempur Rafale Prancis
Teknologi
Keamanan Siber
07 Jul 2025
113 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Kampanye disinformasi yang diluncurkan oleh Beijing bertujuan untuk merusak kepercayaan terhadap jet Rafale.
Meskipun ada klaim mengenai kerugian Rafale, tidak ada negara yang menarik kembali kesepakatan yang telah dibuat.
Rafale tetap menjadi pilihan yang menarik bagi banyak negara, terutama di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Setelah konflik udara antara India dan Pakistan pada Mei, jet tempur Rafale Prancis menjadi sasaran kampanye disinformasi yang dilacak berasal dari China. Disinformasi ini bertujuan merusak kepercayaan terhadap Rafale untuk menekan ekspor senjata Prancis, terutama di wilayah Indo-Pasifik.
Kedutaan besar China di berbagai negara menjalankan lobi terkoordinasi, terutama di negara pembeli dan calon pembeli Rafale seperti Indonesia, untuk membujuk mereka membatalkan atau menunda pesanan dan beralih ke pesawat produksi China.
Kampanye ini menggunakan gambar-gambar yang dimanipulasi, visual AI, rekaman permainan video yang diklaim sebagai bukti pertempuran asli, dan ribuan akun media sosial palsu guna menyebarluaskan narasi yang melemahkan performa Rafale dan memuji keunggulan senjata China.
Meski Pakistan mengklaim menembak jatuh beberapa Rafale milik India, pejabat Prancis membantahnya dan menilai klaim tersebut adalah bagian dari serangan digital yang disokong oleh China. Namun, Indonesia tetap melanjutkan komitmen pembeliannya atas Rafale.
Secara keseluruhan, kampanye ini dipandang sebagai serangan terhadap reputasi industri pertahanan Prancis yang sudah berhasil menjual ratusan Rafale ke berbagai negara. Kedutaan China disebut berperan langsung dalam upaya ini, yang dibantah keras oleh pemerintah China.
Analisis Ahli
Gen. Jérôme Bellanger
Informasi hilangnya Rafale hanya sebagian kecil dari klaim yang beredar dan itu adalah bagian dari kampanye disinformasi yang bertujuan melemahkan kepercayaan terhadap Rafale.Analis Intelijen Militer Prancis
Kampanye tersebut menggunakan berbagai taktik canggih, termasuk AI dan akun palsu, yang menandakan peningkatan kemampuan pengaruh digital oleh negara-negara besar seperti China.
