AI summary
Angkatan Udara AS mengembangkan kemampuan baru untuk mengintegrasikan drone ke dalam operasi militer. F-22 Raptor akan menjadi platform pertama yang mengontrol drone dalam misi kolaboratif. Program Collaborative Combat Aircraft bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tempur dengan mengembangkan lebih dari 1.000 drone. Angkatan Udara Amerika Serikat sedang melakukan upgrade penting pada jet tempur F-22 Raptor dengan mengganti kokpitnya agar bisa mengendalikan drone tempur canggih yang disebut Collaborative Combat Aircraft (CCA). Ini memungkinkan pilot F-22 untuk mengoperasikan drone secara langsung dari udara menggunakan tablet khusus.Program ini dinamakan Crewed Platform Integration (CPI) dan dimulai pada tahun anggaran 2026 dengan anggaran 15 juta dolar. Dari 185 F-22, sebanyak 143 jet siap digunakan untuk tugas tempur dan akan dipasangi sistem kontrol ini dengan biaya sekitar 86 ribu dolar per unit kokpit yang telah dimodifikasi.Sistem komunikasi antara F-22 dan drone kemungkinan besar menggunakan teknologi bernama Inter-Flight Data Link (IFDL) yang aman dan tahan terhadap gangguan. Selain itu, ada juga uji coba komunikasi bersama dengan drone Valkyrie XQ-58A dan jet F-35 yang memberikan lebih banyak opsi komunikasi di masa depan.Selain update F-22, Angkatan Udara juga mengembangkan drone CCA dengan dua prototipe bernama YFQ-42A dan YFQ-44A dari dua perusahaan berbeda. Rencananya, mereka akan membeli antara 100 sampai 150 unit drone pertama dan menargetkan armada lebih dari 1.000 drone sebelum tahun 2030-an.Langkah ini mengubah strategi perang udara dengan menjadikan jet tempur generasi kelima sebagai pusat kendali dalam operasi yang didukung sistem otomatis dan jaringan. Hal ini juga membuka jalan bagi kerja sama antar cabang militer dan pengembangan antarmuka kendali drone yang lebih baik, termasuk bantuan kecerdasan buatan.
Inisiatif ini menandai transformasi fundamental dalam strategi perang udara AS dengan menggabungkan keunggulan stealth dan kecanggihan manusia di kokpit dengan keunggulan tak berawak yang dapat diperluas secara skala dan efisiensi. Namun, tantangan pengelolaan beban kerja pilot tetap menjadi hambatan penting yang harus segera diatasi melalui pengembangan AI dan sistem kontrol inovatif.