Membongkar Rahasia Perjalanan Laut Purba dari Taiwan ke Jepang 30.000 Tahun Lalu
Sains
Iklim dan Lingkungan
26 Jun 2025
248 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Manusia purba memiliki pemahaman yang canggih tentang dinamika laut dan navigasi.
Pembuatan perahu dugout dari alat kuno dapat memfasilitasi perjalanan laut yang panjang.
Kuroshio Current perlu dipertimbangkan dalam rencana perjalanan untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan.
Para peneliti dari Jepang dan Taiwan melakukan eksperimen dengan membuat perahu dugout dari kayu cedar Jepang menggunakan alat batu kuno untuk meniru kelayakan perjalanan laut manusia purba sekitar 30.000 tahun lalu. Perahu ini digunakan untuk menyeberang dari Taiwan timur ke Pulau Yonaguni di Jepang, melintasi laut sepanjang 225 kilometer selama 45 jam.
Mereka melakukan simulasi komputer ribuan kali untuk menjelajahi berbagai kemungkinan rute, pengaruh musim, dan teknik mengayuh yang berbeda. Penelitian ini fokus pada bagaimana manusia purba bisa mengatasi tantangan arus kuat seperti Arus Kuroshio dan menggunakan strategi navigasi alami seperti matahari dan bintang tanpa alat modern.
Hasil eksperimen menunjukan bahwa perahu dugout lebih cepat dan tahan terhadap kondisi laut dibandingkan dengan rakit yang dianggap tidak efektif dan kurang tangguh. Pelayaran semacam ini membutuhkan keahlian mengayuh, strategi navigasi yang baik, dan tekad kuat para pelaut purba tersebut.
Salah satu teknik kunci agar sampai ke tujuan adalah mengayuh sedikit ke arah tenggara, bukan langsung ke utara, untuk mengimbangi arus laut yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia purba sudah memiliki pengertian canggih tentang pola arus laut dan navigasi.
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang keberanian dan kecanggihan manusia purba dalam menjelajah dunia, sekaligus menegaskan bahwa mereka mampu menjelajah pulau-pulau jauh menggunakan perahu yang dibuat dengan alat sederhana. Namun, perjalanan pulang kemungkinan belum bisa dilakukan tanpa peta dan pengetahuan arus laut.


