Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Hak Pelatihan AI Pakai Buku Terbitan: Putusan Pengadilan Pertama Fair Use AI

Teknologi
Kecerdasan Buatan
TechCrunch TechCrunch
24 Jun 2025
80 dibaca
2 menit
Hak Pelatihan AI Pakai Buku Terbitan: Putusan Pengadilan Pertama Fair Use AI

Rangkuman 15 Detik

Keputusan hakim dapat mengubah lanskap hukum terkait hak cipta dan AI.
Penggunaan wajar mungkin menjadi alat defensif bagi perusahaan teknologi dalam penggunaan materi berhak cipta.
Kasus ini menunjukkan tantangan yang dihadapi penulis dan kreator dalam era digital dan AI.
Baru-baru ini, hakim federal William Alsup membuat keputusan penting yang menyatakan bahwa pelatihan model kecerdasan buatan (AI) menggunakan buku yang sudah diterbitkan tanpa izin dari penulis adalah sah menurut hukum dengan dasar doktrin fair use. Ini merupakan kali pertama pengadilan memberi sinyal dukungan terhadap klaim perusahaan AI bahwa penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI bisa dikecualikan dari pelanggaran hukum. Keputusan ini tentu menjadi pukulan bagi para penulis, seniman, dan penerbit yang selama ini menggugat perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Meta, dan Google atas penggunaan karya mereka tanpa izin. Banyak dari gugatan tersebut bergantung pada bagaimana hakim menafsirkan doktrin fair use, yang memang sudah lama tidak diperbarui dan kini terasa kurang relevan dengan perkembangan teknologi modern. Fair use sendiri punya kriteria khusus, misalnya terkait jenis penggunaan, kebermanfaatan secara edukasi atau parodi, serta seberapa besar transformasi dari karya asli. Pada kasus ini, meski pelatihan AI dianggap fair use, gugatan juga mengangkat isu penggunaan salinan buku bajakan yang disimpan dalam 'perpustakaan sentral' Anthropic, yang secara jelas ilegal. Pengadilan akan mengadakan sidang terpisah untuk menilai aspek penggunaan karya bajakan tersebut dan menentukan besarnya kerusakan yang harus dibayar oleh Anthropic. Walaupun perusahaan tersebut kemudian membeli salinan buku yang sebelumnya diunduh secara ilegal, hal itu tidak menghapus tanggung jawab hukum mereka. Putusan ini membuka kemungkinan preseden hukum di mana perusahaan teknologi bisa lebih leluasa menggunakan data berhak cipta untuk pengembangan AI, namun juga memperingatkan bahwa cara pengambilan dan penyimpanan materi ilegal tetap akan mendapat perhatian serius di pengadilan.