Mengapa Fitur AI untuk Posting LinkedIn Kurang Populer Meski Keterampilan AI Meningkat
Teknologi
Kecerdasan Buatan
22 Jun 2025
195 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Penggunaan AI di LinkedIn menunjukkan tantangan dalam penerimaan pengguna.
Keberadaan AI meningkatkan permintaan untuk keterampilan terkait teknologi di pasar kerja.
Roslansky menekankan pentingnya konten yang otentik di platform profesional.
LinkedIn adalah platform profesional yang banyak digunakan untuk mencari pekerjaan dan membangun reputasi karir. Baru-baru ini, penggunaan AI di platform ini semakin meningkat, terutama dalam menambahkan keterampilan AI di profil pengguna serta lowongan pekerjaan yang membutuhkan keahlian AI.
Namun, penggunaan fitur AI untuk membantu memoles posting di LinkedIn ternyata belum semarak yang diperkirakan. CEO LinkedIn, Ryan Roslansky, menyatakan bahwa pengguna enggan menggunakan fitur itu karena LinkedIn dianggap sebagai semacam resume online.
Karena itu, standar untuk membuat postingan di LinkedIn sangat tinggi. Jika pengguna terlihat terlalu mengandalkan AI, mereka bisa saja mendapat kritik dari pengguna lain. Kritik semacam ini di LinkedIn dianggap lebih serius karena bisa berdampak langsung terhadap peluang ekonomi dan karir seseorang.
Selain itu, data menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir, jumlah pekerjaan yang membutuhkan keahlian AI di LinkedIn meningkat hingga enam kali lipat. Bahkan, pengguna yang menambahkan keterampilan AI di profilnya naik sampai 20 kali lipat, menandakan tren yang kuat menuju penguasaan teknologi ini.
Sebagai contoh penggunaan AI dalam lingkungan profesional, Ryan Roslansky sendiri menggunakan fitur AI bernama Copilot untuk memastikan email yang dikirim kepada CEO Microsoft, Satya Nadella, terlihat profesional dan sesuai standar komunikasi bisnis tingkat tinggi.