Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Terobosan Teknologi dan Sains Tiongkok: Dari Senjata Cepat hingga Bahasa Matematika Misterius

Sains
Fisika dan Kimia
physics-and-chemistry (9mo ago) physics-and-chemistry (9mo ago)
04 Jun 2025
293 dibaca
2 menit
Terobosan Teknologi dan Sains Tiongkok: Dari Senjata Cepat hingga Bahasa Matematika Misterius

Rangkuman 15 Detik

Kemajuan teknologi senjata elektromagnetik di China menunjukkan inovasi yang pesat.
Penelitian tentang asal-usul Covid-19 terus berkembang dan menantang teori-teori sebelumnya.
Kembalinya Dan Yang ke China mencerminkan potensi pengembangan riset di negara tersebut.
Dalam dua minggu terakhir, ada banyak kemajuan penting dalam dunia sains dan teknologi yang berasal dari Tiongkok. Salah satunya adalah penampakan senjata coilgun elektromagnetik yang mampu menembak hingga 3.000 peluru per menit, kecepatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan senjata tradisional dan model komersial AS. Ini menunjukkan perkembangan teknologi militer yang sangat pesat. Selain itu, tim riset yang didukung oleh pemerintah Tiongkok membuat terobosan teknologi mesin hipersonik yang menggunakan bahan bakar jet biasa. Ini membangkitkan kembali perdebatan internasional mengenai kemungkinan teknologi ini yang pertama kali dicanangkan oleh militer AS hampir 70 tahun yang lalu. Di bidang matematika, Zhou Zhongpeng, seorang mantan mahasiswa doktoral Peking University yang kini teknisi, berhasil memecahkan sebuah masalah rumit yang dikenal sebagai “bahasa alien” akibat kompleks dan sulit dipahami. Ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa dalam dunia matematika. Sebuah studi internasional terbaru memberikan bukti kuat bahwa virus corona penyebab pandemi Covid-19 bukan berasal dari Wuhan, sehingga menolak teori tentang kebocoran laboratorium yang sempat dikemukakan Presiden AS saat itu, Donald Trump. Penemuan ini penting untuk memahami asal-usul pandemi secara ilmiah. Selain itu, para ahli Tiongkok juga melakukan analisa terhadap kemampuan militer AS yang bisa melancarkan serangan nuklir taktis ke Tiongkok dan menemukan hasil yang tidak terduga. Di sisi lain, neuroscientist Dan Yang memilih kembali ke Tiongkok setelah bertahun-tahun meneliti di AS, dan ahli radar Li Chunsheng meninggal dunia setelah banyak memberikan kontribusi dalam industri aerospace Tiongkok.