Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Dompet Kripto Trump Baru: Bisnis Kontroversial & Tuduhan Konflik Kepentingan

Finansial
Mata Uang Kripto
cryptocurrency (9mo ago) cryptocurrency (9mo ago)
04 Jun 2025
117 dibaca
2 menit
Dompet Kripto Trump Baru: Bisnis Kontroversial & Tuduhan Konflik Kepentingan

Rangkuman 15 Detik

Peluncuran dompet crypto Trump memperlihatkan keterlibatan aktifnya dalam industri cryptocurrency.
Keluarga Trump telah meluncurkan berbagai produk crypto yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Protes terhadap bisnis crypto Trump menunjukkan kontroversi yang melingkupinya.
Presiden Donald Trump dan timnya terus mengembangkan produk kripto dengan meluncurkan dompet kripto baru bernama Trump wallet. Dompet ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan berdagang aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, serta NFT, dengan dukungan teknologi dari Magic Eden dan Slingshot Finance. Peluncuran dompet kripto ini menuai kontroversi karena tidak semua anggota keluarga Trump mengetahui proyek ini, bahkan Eric Trump dan Don Jr. menyatakan tidak tahu soal peluncuran tersebut. Ini menimbulkan pertanyaan seputar transparansi dan pengelolaan merek Trump dalam ranah kripto. Dalam setahun terakhir, Trump dan keluarganya telah meluncurkan berbagai produk kripto bermerek Trump seperti memecoin, stablecoin, aplikasi DeFi, bahkan sebuah perusahaan penambangan Bitcoin dan video game kripto. Trump Media & Technology Group juga melakukan investasi besar dalam Bitcoin. Para pengkritik dan aktivis menganggap produk kripto Trump melambangkan konflik kepentingan yang jelas dan potensi penyalahgunaan pengaruh untuk keuntungan pribadi. Mereka menilai bisnis ini sebagai bentuk inovasi korup yang mengejutkan dalam sejarah politik Amerika. Sementara itu, di tingkat pemerintahan, Trump mendorong pelonggaran regulasi industri kripto, termasuk instruksi kepada SEC dan DOJ mempermudah pengawasan, serta mendukung pembentukan cadangan Bitcoin strategis. Hal ini menambah kontroversi terkait hubungan politik dan bisnis kripto Trump.