TLDR
Kritik terhadap pendidikan doktoral di China menyoroti perlunya pendekatan yang lebih inovatif. Perusahaan seringkali menjadi pelopor dalam inovasi teknologi, bukan universitas. Bakat dan kreativitas dapat terhambat oleh sistem pendidikan yang terlalu terfokus pada publikasi akademis. Pendidikan doktoral di Tiongkok kini tengah mendapat sorotan tajam karena dianggap lebih menekankan pada jumlah makalah ilmiah yang dipublikasikan daripada kualitas dan inovasi risetnya. Banyak yang merasa sistem ini membuat mahasiswa doktoral hanya fokus memenuhi kuota publikasi tanpa menghasilkan karya yang benar-benar baru dan berguna.Wang Shuguo, seorang akademisi terkemuka dan presiden universitas di Tiongkok, menyampaikan pandangannya dalam sebuah konferensi di Beijing. Ia mengatakan bahwa sistem pendidikan doktoral saat ini justru membelenggu bakat dan menghambat kreativitas para ilmuwan muda yang seharusnya lebih bebas berkarya.Untuk memberi contoh nyata, Wang Shuguo menunjukkan kisah pendiri DeepSeek, sebuah start-up AI yang berhasil menciptakan teknologi low-cost dan open-source yang mampu bersaing dengan perusahaan besar internasional seperti OpenAI. Menariknya, pendiri DeepSeek tidak menempuh pendidikan doktoral, melainkan hanya sampai jenjang master.Wang juga mencontohkan para tokoh sukses lain seperti pendiri perusahaan robot Unitree dan DJI, pembuat drone terbesar dunia, yang juga bukan lulusan doktoral. Dari sini terlihat bahwa inovasi teknologi besar justru muncul dari praktisi industri, bukan dari lembaga akademik yang seharusnya menjadi pusat riset.Kritikan Wang membuka diskusi penting tentang bagaimana sistem pendidikan harus diperbaiki supaya dapat mendorong lahirnya pemikiran dan inovasi yang lebih orisinal dan bermanfaat bagi kemajuan teknologi dan ekonomi negara.