BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Indonesia 2025 pada Bulan Agustus
Sains
Iklim dan Lingkungan
19 Mei 2025
228 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau pada tahun 2025.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.
Durasi musim kemarau di Indonesia bervariasi, dengan sebagian besar daerah mengalami durasi yang lebih pendek dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan prediksi musim kemarau pada tahun 2025 yang akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Menurut BMKG, hampir 60 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan memasuki musim kemarau antara April hingga Juni 2025. Ini merupakan informasi penting untuk masyarakat dan sektor terkait agar dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Musim kemarau tahun 2025 diperkirakan akan dimulai sama atau sedikit lebih lambat dibanding waktu biasanya. Curah hujan yang terjadi selama musim kemarau ini diprediksi akan tetap berada pada angka normal, artinya tidak akan terlalu kering atau basah. Hal ini menunjukkan musim kemarau tahun depan tidak akan berbeda jauh dari pola biasanya.
Untuk puncak musim kemarau, BMKG memperkirakan terjadi antara bulan Juni hingga Agustus 2025. Puncak kemarau di wilayah barat Indonesia, seperti Sumatra dan Kalimantan utara, diprediksi terjadi pada Juni dan Juli. Sedangkan wilayah Jawa bagian tengah sampai timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan beberapa bagian Papua akan mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus.
Durasi musim kemarau akan bervariasi tergantung lokasi. Di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan, musim kemarau akan berlangsung sekitar 2 bulan atau 6 dasarian. Sedangkan di wilayah Sulawesi, musim kemarau bisa berlangsung lebih lama, yaitu lebih dari 24 dasarian. Ini menunjukkan variasi yang cukup besar antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Jika dibandingkan dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau tahun 2025 diprediksi bakal memiliki durasi yang lebih pendek di sekitar 43 persen wilayah Indonesia. Artinya, meskipun mulai sama atau sedikit lambat, musim kemarau tahun depan kemungkinan tidak akan berlangsung lama di banyak tempat.


