Pasar Obat Obesitas Asia Melonjak, China dan Jepang Jadi Target Produsen
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
19 Mei 2025
213 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pasar obat obesitas di Asia, terutama di China dan Jepang, menunjukkan potensi pertumbuhan yang besar.
Inovasi dan persaingan di antara perusahaan farmasi dapat meningkatkan pilihan dan menurunkan harga obat untuk pasien.
Francis Chow memprediksi bahwa beberapa obat baru akan disetujui dalam waktu dekat, memperluas opsi yang tersedia di pasar.
Pasar obat yang digunakan untuk mengatasi obesitas dan diabetes di Asia kini semakin menarik perhatian produsen obat besar dan perusahaan bioteknologi baru. Ini disebabkan oleh pertumbuhan kebutuhan dan jumlah pasien yang belum terlayani dengan baik, khususnya di China dan Jepang.
Morgan Stanley menaikkan prediksi nilai pasar obat pengontrol obesitas menjadi Rp 2.50 quadriliun (US$150 miliar) pada tahun 2035, meningkat dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 1.75 quadriliun (US$105 miliar) . Perubahan ini didorong oleh jumlah populasi yang semakin memenuhi syarat untuk menggunakan obat tersebut.
Ahli kesehatan seperti Francis Chow Chun-chung memprediksi dalam lima tahun ke depan akan ada antara tiga hingga lima obat baru yang disetujui untuk digunakan dalam manajemen berat badan dan diabetes, yang berarti lebih banyak pilihan obat bagi pasien.
Perusahaan lokal seperti Innovent Biologics berusaha masuk ke pasar China yang selama ini didominasi oleh perusahaan asing dengan produk seperti mazdutide yang berpotensi disetujui tahun ini untuk pengelolaan berat badan dan tipe 2 diabetes.
Secara keseluruhan, peningkatan persaingan di pasar ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi konsumen seperti lebih banyak pilihan obat dan penurunan harga, terutama di pasar Asia yang masih memiliki penetrasi rendah.
Analisis Ahli
Francis Chow Chun-chung
Dengan banyak kandidat obat dalam pipeline, persetujuan tiga hingga lima obat baru dalam lima tahun ke depan akan menjadi kenyataan yang meningkatkan pilihan dan mendorong penurunan harga.

