Konflik Figure AI dengan Broker Pasar Sekunder soal Penjualan Saham Tanpa Izin
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
30 Apr 2025
142 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Figure AI mengklaim sebagai saham swasta yang paling dicari di pasar sekunder.
Perusahaan mengirimkan surat cease-and-desist kepada broker yang tidak memiliki izin untuk memasarkan sahamnya.
Valuasi Figure AI meningkat secara signifikan, tetapi ada kekhawatiran tentang penjualan saham di pasar sekunder.
Brett Adcock, pendiri Figure AI, mengklaim bahwa perusahaannya adalah saham swasta yang paling dicari di pasar sekunder. Namun, perusahaan tersebut mengirim surat perintah penghentian dan penghentian kepada setidaknya dua broker yang menjalankan pasar sekunder, menuntut mereka untuk berhenti memasarkan saham perusahaan. Hal ini terjadi setelah laporan Bloomberg bahwa Figure AI sedang mencari pendanaan sebesar Rp 25.05 triliun ($1,5 miliar) dengan valuasi Rp 659.65 triliun ($39,5 miliar) .
Figure AI menyatakan bahwa mereka tidak mengizinkan perdagangan pasar sekunder tanpa otorisasi dewan direksi. Beberapa broker pasar sekunder berpendapat bahwa beberapa CEO tidak menyukai penjualan saham di pasar sekunder karena dapat bersaing dengan putaran pendanaan baru. Sim Desai dari Hiive berpendapat bahwa perdagangan pasar sekunder yang aktif dapat menarik lebih banyak minat untuk saham primer dalam putaran baru.
Figure AI juga menjadi sorotan media terkait kemajuan mereka dengan pelanggan utama, BMW. Perusahaan ini telah menanggapi beberapa artikel dengan ancaman tuntutan hukum karena ketidakakuratan. Bagaimana Figure AI akan mengumpulkan dana berikutnya dan pada valuasi berapa masih belum pasti, begitu juga dengan kemampuan investor saat ini untuk mencairkan saham mereka melalui transaksi sekunder.
Analisis Ahli
Sim Desai
Perusahaan sering memblokir penjualan saham sekunder karena melihatnya sebagai zero-sum game, namun pasar sekunder yang aktif justru dapat menarik minat lebih besar untuk putaran dana utama.