Penjualan Mobil Listrik China di Pasar Berkembang Lindungi dari Risiko Tarif Tinggi
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
25 Apr 2025
31 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pertumbuhan pasar berkembang membantu produsen mobil Tiongkok mengatasi dampak tarif.
Tarif tinggi dari negara seperti Amerika Serikat memberikan tantangan besar bagi industri otomotif Tiongkok.
Penjualan mobil Tiongkok ke Rusia dan Belarus telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Penjualan mobil China diproyeksikan melambat tahun ini karena ketegangan geopolitik setelah dua tahun pertumbuhan pesat. Tarif AS akan membebani industri otomotif China dengan tambahan biaya ekspor sebesar Rp 768.20 triliun (US$46 miliar) . Ekspor mobil China diperkirakan akan naik sekitar 4 persen menjadi 6,7 juta unit pada 2025.
Penjualan mobil China ke Rusia dan Belarus telah lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, melindungi produsen mobil listrik China dari volatilitas tarif. Banyak negara telah meningkatkan tarif pada mobil China sejak 2024, dengan tarif AS mencapai hingga 245 persen. Produsen mobil listrik China juga menghadapi tarif 100 persen di Kanada, 35 persen di Brasil, dan 17,8 persen hingga 45,3 persen di Eropa.
Tarif ini akan meningkatkan biaya ekspor otomotif China ke AS sebesar Rp 768.20 triliun (US$46 miliar) , dengan produsen mobil menanggung kerugian sebesar Rp 120.24 triliun (US$7,2 miliar) dan pemasok suku cadang otomotif menanggung Rp 647.96 triliun (US$38,8 miliar) . Meskipun demikian, penjualan di pasar negara berkembang seperti Rusia, Belarus, dan Timur Tengah membantu mengurangi dampak negatif dari tarif tersebut.
Analisis Ahli
Andrew Bergbaum
Pertumbuhan ekspor mobil China ke negara-negara seperti Rusia dan Belarus membantu pelaku industri menopang ketidakseimbangan akibat tarif tinggi dari Amerika dan Eropa.

