AI summary
Benchmarking crowdsourced memiliki kelemahan dalam validitas dan dapat digunakan untuk klaim yang berlebihan. Pentingnya kompensasi bagi evaluator model untuk menghindari praktik eksploitasi. Benchmark harus dinamis dan disesuaikan dengan berbagai penggunaan spesifik untuk meningkatkan relevansi. Laboratorium AI seperti OpenAI, Google, dan Meta semakin sering menggunakan platform benchmarking crowdsourced seperti Chatbot Arena untuk mengevaluasi model mereka. Namun, beberapa ahli mengkritik pendekatan ini dari perspektif etis dan akademis. Emily Bender dari University of Washington menyatakan bahwa benchmark harus memiliki validitas konstruksi yang jelas, yang menurutnya tidak dimiliki oleh Chatbot Arena.Asmelash Teka Hadgu dari Lesan dan Kristine Gloria dari Aspen Institute menyoroti bahwa benchmark harus dinamis dan evaluator harus diberi kompensasi. Hadgu juga mengkritik Meta yang pernah menyesuaikan model Maverick untuk mendapatkan skor tinggi di Chatbot Arena, tetapi kemudian merilis versi yang berkinerja lebih buruk. Gloria menambahkan bahwa proses benchmarking crowdsourced berharga tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya metrik untuk evaluasi.Matt Frederikson dari Gray Swan AI dan Wei-Lin Chiang dari UC Berkeley juga setuju bahwa benchmark publik tidak cukup dan harus dilengkapi dengan evaluasi internal dan tim red algoritmik. Chiang menegaskan bahwa insiden ketidaksesuaian benchmark bukan karena desain Chatbot Arena, tetapi karena laboratorium salah menafsirkan kebijakannya. LM Arena telah memperbarui kebijakannya untuk mencegah ketidaksesuaian di masa depan.
Metode crowdsourced benchmarking saat ini terlalu mengandalkan preferensi subjektif tanpa validasi ilmiah yang memadai, sehingga rentan dimanipulasi dan tidak mencerminkan kualitas sebenarnya dari model AI. Industri AI harus segera beralih ke sistem evaluasi yang lebih transparan dan berbasis domain yang melibatkan profesional berkompeten agar hasilnya bermakna dan etis.