Tiga Insinyur Muda Ciptakan Teknologi Drone Tanpa GPS untuk Militer
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
18 Apr 2025
8 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Theseus mengembangkan teknologi drone yang dapat berfungsi tanpa GPS, yang sangat relevan untuk situasi di Ukraina.
Perusahaan ini berhasil mendapatkan pendanaan awal yang signifikan dan perhatian dari militer AS.
Kolaborasi yang cepat antara individu yang baru dikenal dapat menghasilkan inovasi yang luar biasa.
Pada 18 Februari 2024, Ian Laffey memposting di X tentang drone murah yang dia bangun bersama dua orang lainnya di sebuah hackathon. Drone ini menggunakan kamera dan Google Maps untuk menghitung koordinatnya, menawarkan solusi untuk masalah gangguan GPS pada drone di Ukraina. Tweet ini menjadi viral dan mengubah hidup mereka, membawa mereka untuk mendaftar ke Y Combinator dan diterima dalam kohort Musim Semi 2024.
Perusahaan mereka, Theseus, berbasis di San Francisco dan baru saja mengumpulkan Rp 71.81 miliar ($4,3 juta) dalam pendanaan awal yang dipimpin oleh First Round Capital. Theseus fokus pada pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak yang memungkinkan drone militer terbang tanpa GPS. Meskipun belum memenangkan kesepakatan militer AS, Theseus telah menarik perhatian Pasukan Khusus AS untuk pengujian dan pengembangan awal.
Theseus tidak membangun sistem penargetan, tetapi hanya fokus pada membawa drone dari titik A ke B. Mereka menggunakan modal baru untuk mengembangkan teknologi lebih lanjut dan merekrut tiga insinyur baru. Meskipun memulai perusahaan dengan orang yang baru dikenal kurang dari seminggu biasanya tidak disarankan, dalam kasus Theseus, itu adalah langkah yang tepat.
Analisis Ahli
Dr. Andi Prasetyo (Pakarnya teknologi UAV dan sistem navigasi)
Penggunaan kamera dan peta digital sebagai sistem navigasi alternatif merupakan inovasi cerdas yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap GPS. Namun, tantangan terbesar adalah akurasi dan keandalan dalam kondisi lingkungan yang sulit, yang masih harus diatasi melalui riset lanjut.
