Ketegangan Tarif AS-China Picu Tekanan Inflasi dan Ketidakpastian Pasar
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
11 Apr 2025
47 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Tarif baru yang diumumkan oleh China dapat berdampak signifikan pada perdagangan dan ekonomi AS.
Perusahaan seperti Amazon mulai merasakan dampak inflasi akibat tarif yang lebih tinggi.
Ketidakpastian politik dan ekonomi dapat mempengaruhi keputusan investasi dan pengeluaran konsumen.
Setelah penurunan tajam pada hari Kamis, perdagangan premarket hari Jumat menunjukkan pemulihan sederhana dengan S&P 500, Dow, dan Nasdaq masing-masing naik. Saham perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Apple, dan Tesla juga menunjukkan kenaikan. Investor mengamati dengan cermat laporan pendapatan bank untuk melihat tanda-tanda ketegangan atau ketahanan di pasar pinjaman dan kredit.
China mengumumkan kenaikan tarif impor AS dari 84% menjadi 125%, yang membuat barang-barang AS tidak kompetitif. Harga emas melonjak ke rekor tertinggi di atas Rp 53.44 ribu ($3.200) per ons, sementara hasil obligasi jangka panjang AS dan dolar AS mengalami penurunan. Analis Deutsche Bank mengaitkan penurunan aset utama AS dengan kebijakan radikal dan volatil dari pemerintahan Trump.
CEO Amazon, Andy Jassy, mengatakan tarif baru memicu kenaikan harga dan penimbunan oleh konsumen. JPMorgan strategis Michael Cembalest mulai melunakkan komentar publik tentang tarif, mengingat lingkungan yang tegang. Analis Wedbush menyebut tarif sebagai 'Armageddon ekonomi' yang menciptakan ketidakpastian besar dan dampak harga yang akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari konsumen AS.
Analisis Ahli
Michael Cembalest
Menyoroti keengganan berbicara secara terbuka tentang tarif karena iklim politik yang memanas, menunjukkan ketegangan yang mungkin memperburuk situasi pasar.Wedbush
Menilai bahwa tarif yang diberlakukan oleh China menyerupai bencana ekonomi yang menciptakan ketidakpastian besar seperti saat pandemi Covid, menimbulkan dampak serius terhadap belanja modal dan rantai pasok teknologi.