AI summary
Tarif baru dapat mempengaruhi penjualan merek AS di pasar internasional. Sentimen anti-Amerika dapat menghambat pertumbuhan merek AS di negara-negara lain. Perusahaan cepat saji seperti McDonald's dan Starbucks menghadapi tantangan dalam memulihkan penjualan internasional setelah pandemi. Perusahaan-perusahaan AS sedang menghadapi tantangan baru akibat tarif timbal balik yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump, yang memicu sentimen anti-Amerika terhadap merek-merek AS. Tarif dasar sebesar 10% mulai berlaku pada 5 April, sementara tarif yang lebih tinggi akan dimulai pada 9 April. Sentimen ini dapat mempengaruhi merek-merek besar seperti McDonald's, Yum! Brands, Starbucks, dan Domino's yang memiliki eksposur besar di pasar internasional.Goldman Sachs memperkirakan bahwa boikot asing akan mengurangi PDB AS sebesar 0,1% hingga 0,3% tahun ini, yang berarti kerugian sekitar $28 miliar hingga $83 miliar. McDonald's mencatat pertumbuhan penjualan global sebesar 0,4% pada kuartal terakhir, sementara Starbucks masih berjuang untuk melihat pemulihan dalam bisnis internasionalnya. Yum China dan Domino's juga menghadapi tantangan serupa dengan penurunan penjualan di beberapa wilayah.Para ahli seperti Peter Saleh dan Chris Versace mengkhawatirkan bahwa sentimen anti-Amerika ini dapat memperlambat pertumbuhan merek-merek AS di pasar internasional. Mereka juga menyoroti bahwa pemerintah di negara-negara tersebut dapat membuat proses persetujuan lebih sulit bagi merek-merek AS. Dengan demikian, merek-merek ini harus bersiap menghadapi tantangan tambahan di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Sentimen anti-Amerika yang muncul akibat perang dagang ini merupakan risiko serius yang belum banyak diperhitungkan perusahaan, dan bisa berakibat pada penurunan pangsa pasar internasional mereka. Perusahaan perlu segera menyesuaikan strategi lokal dan membangun hubungan kerja sama yang lebih dekat di pasar luar agar bisa bertahan dalam iklim geopolitik yang semakin rumit.