Jim Cramer Bahas Tarif & Posisi Saham Marriott di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
06 Apr 2025
52 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Jim Cramer mengekspresikan ketidakpastian tentang penerapan tarif dan dampaknya terhadap pasar.
Marriott International, Inc. mengalami penurunan harga saham yang signifikan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Cramer tetap optimis bahwa resesi tidak akan terjadi meskipun ada laporan yang menunjukkan peningkatan kemungkinan tersebut.
Jim Cramer, seorang analis keuangan terkenal, baru-baru ini membahas tentang tarif yang diterapkan oleh Presiden Trump dan dampaknya terhadap pasar saham, termasuk Marriott International, Inc. (NASDAQ:MAR). Dalam acara CNBC, Cramer mengungkapkan kebingungannya tentang bagaimana tarif akan dilaksanakan dan dampaknya terhadap bisnis. Dia juga menyatakan bahwa meskipun ada kekhawatiran tentang resesi, dia tidak percaya bahwa resesi akan terjadi, dan menyoroti bahwa indeks Dow Jones tetap kuat.
Marriott, yang merupakan jaringan hotel global, mengalami penurunan harga saham sebesar 17,8% tahun ini karena kondisi ekonomi yang memburuk. Cramer mencatat bahwa pasar perjalanan mungkin sudah mencapai puncaknya, dan penurunan harga saham di sektor ini bisa menjadi masalah bagi investor. Dia percaya bahwa ketika satu saham turun, investor cenderung menjual saham lainnya di sektor yang sama.
Meskipun Cramer melihat potensi di Marriott, dia lebih percaya bahwa saham-saham di sektor kecerdasan buatan (AI) memiliki peluang yang lebih baik untuk memberikan keuntungan dalam waktu dekat. Artikel ini juga menyebutkan bahwa ada saham AI yang lebih menjanjikan dibandingkan Marriott dan diperdagangkan dengan harga yang lebih rendah dari 5 kali laba.
Analisis Ahli
Jim Cramer
Tidak percaya resesi akan terjadi dan melihat ketahanan Dow Jones sebagai hal yang positif meskipun ada ketidakpastian kebijakan tarif.David Faber
Menyampaikan spekulasi tentang penggunaan dana tarif untuk Sovereign Wealth Fund AS dan integrasi aset seperti TikTok.Carl Quintanilla
Mengutip laporan Goldman Sachs yang memperkirakan risiko resesi meningkat hingga 35%, menyoroti kekhawatiran pasar.