Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Goldman Sachs Peringatkan Tarif Trump Bisa Picu Inflasi dan Resesi AS

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
31 Mar 2025
289 dibaca
1 menit
Goldman Sachs Peringatkan Tarif Trump Bisa Picu Inflasi dan Resesi AS

AI summary

Tarif baru yang direncanakan dapat meningkatkan inflasi di AS.
Ada kemungkinan resesi di AS meningkat akibat ketidakpastian ekonomi.
Reaksi pasar menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak tarif pada perekonomian.
Goldman Sachs (GS) memperingatkan tentang kondisi ekonomi AS menjelang pengumuman tarif timbal balik oleh Presiden Trump. Trump berencana untuk memperkenalkan tarif baru pada 2 April, tetapi rincian tarif dan negara yang terkena dampak masih belum jelas. Ekonom Goldman, Jan Hatzius, memperkirakan bahwa tarif yang lebih tinggi dapat meningkatkan harga barang dan menaikkan proyeksi inflasi menjadi 3,5% untuk tahun ini. Ia juga memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS akan turun menjadi 1% pada tahun 2025 dan ada kemungkinan 35% terjadinya resesi dalam 12 bulan ke depan.Pasar saham juga merespons kekhawatiran tentang tarif ini, dengan indeks Dow Jones turun 716 poin, dan S&P 500 serta Nasdaq juga mengalami penurunan signifikan. Beberapa negara, seperti China dan Kanada, telah merespons dengan mengenakan tarif pada produk-produk AS, yang dapat memperburuk situasi ekonomi.Gary Cohn, mantan direktur Dewan Ekonomi Nasional, mengatakan bahwa pasar lebih suka kepastian dan dapat diprediksi. Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif dapat membuat pasar saham bergejolak, karena investor tidak suka dengan situasi yang tidak jelas.

Experts Analysis

Jan Hatzius
Kenaikan tarif signifikan diperkirakan meningkatkan inflasi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi AS secara material.
Gary Cohn
Ketidakpastian kebijakan tarif adalah faktor utama yang melemahkan pasar dan investor, menyebabkan penurunan harga saham.
Editorial Note
Kebijakan tarif yang luas tanpa kejelasan detail hanya akan menambah tekanan inflasi dan menurunkan kepercayaan pasar serta konsumen. Skenario ini bisa memperburuk kondisi ekonomi AS, memaksa bank sentral mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat di saat ekonomi sedang rapuh.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.