Mengapa Aturan 30% untuk Biaya Rumah Sudah Tidak Tepat Lagi di 2025
Finansial
Perencanaan Keuangan
29 Mar 2025
255 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Harga rumah terus meningkat, membuat sulit bagi banyak orang untuk membeli rumah.
Aturan 30% untuk biaya perumahan mungkin tidak realistis bagi banyak pembeli rumah saat ini.
Penting untuk mempertimbangkan semua pengeluaran dan tujuan keuangan saat merencanakan pembelian rumah.
Harga rumah di Amerika Serikat terus meningkat, dengan harga median mencapai Rp 6.65 miliar ($398,400) pada bulan Februari. Meskipun suku bunga hipotek tinggi, banyak orang tetap membeli rumah karena persediaan rumah yang terbatas. Namun, ada saran untuk tidak menghabiskan lebih dari 30% dari pendapatan kotor untuk biaya perumahan, yang mencakup hipotek, pajak properti, dan biaya lainnya.
Masalahnya, dengan harga rumah yang tinggi dan pendapatan yang terbatas, banyak orang tidak dapat mengikuti aturan 30% ini. Misalnya, jika seseorang memiliki pendapatan bulanan sekitar Rp 86.26 juta ($5,165) , pembayaran hipotek saja bisa mencapai Rp 34.23 juta ($2,050) , yang berarti hampir 40% dari pendapatan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan pengeluaran lain dan menyesuaikan anggaran sesuai dengan situasi pribadi.
Sebaiknya, orang-orang harus membuat anggaran rumah tangga yang mencakup semua kebutuhan dan prioritas mereka. Jika seseorang memiliki utang besar atau biaya lain yang tinggi, mungkin lebih baik untuk menghabiskan kurang dari 30% dari pendapatan untuk perumahan. Dengan cara ini, mereka bisa lebih siap untuk menabung untuk masa depan, seperti pensiun atau pendidikan anak.
Analisis Ahli
Dave Ramsey
Metode pengelolaan utang dan tabungan secara disiplin adalah kunci untuk membangun kekayaan dan memastikan kestabilan finansial jangka panjang.