Fenomena 'Eggflation': Kenaikan Harga Telur dan Dampaknya di Indonesia
Bisnis
Ekonomi Makro
24 Mar 2025
247 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Fenomena 'eggflation' menyebabkan harga telur meningkat secara global.
Wabah flu burung H5 berdampak signifikan pada produksi telur di Indonesia.
Indonesia merupakan produsen telur terbesar ketiga di dunia dengan permintaan yang sangat tinggi.
Fenomena 'eggflation' terjadi ketika harga telur naik hingga 15% di seluruh dunia, yang menyebabkan harga makanan yang mengandung telur, seperti kue kering, juga meningkat. Di Indonesia, harga telur mencapai sekitar Rp25.865 per kilogram. Kenaikan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk wabah flu burung yang meningkatkan biaya produksi dan krisis telur di beberapa negara.
Meskipun Indonesia adalah produsen telur terbesar ketiga di dunia dan konsumsi telur per kapita sangat tinggi, wabah flu burung H5 telah menyebabkan kematian 1,88 juta unggas di Jawa dan Bali, yang berpengaruh pada harga. Meskipun ada peternakan besar yang membantu menjaga harga tetap rendah, dampak dari wabah penyakit ini tetap terasa.
Analisis Ahli
Dr. Andri Wijaya (Ahli Agribisnis)
Wabah flu burung menjadi alarm bagi industri perunggasan Indonesia untuk memperkuat sistem kesehatan hewan dan memperluas distribusi produksi agar bisa menahan kenaikan harga telur.

