Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

EcoDataCenter Kumpulkan Dana Besar untuk Bangun Pusat Data Ramah Lingkungan

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (1y ago) climate-and-environment (1y ago)
05 Mar 2025
297 dibaca
1 menit
EcoDataCenter Kumpulkan Dana Besar untuk Bangun Pusat Data Ramah Lingkungan

Rangkuman 15 Detik

EcoDataCenter berhasil mengumpulkan hampir setengah miliar dolar untuk pengembangan pusat data berkelanjutan.
Perusahaan ini berfokus pada penggunaan energi terbarukan dan teknologi ramah lingkungan.
Permintaan untuk pusat data kolokasi meningkat seiring dengan pertumbuhan komputasi AI.
EcoDataCenter, sebuah perusahaan asal Swedia yang membangun pusat data ramah lingkungan, baru saja mengumpulkan dana hampir setengah miliar dolar, yaitu Rp 7.98 triliun ($478 juta) (€450 juta). Dana ini akan digunakan untuk mengembangkan teknologi baru untuk pusat data yang lebih "hijau" dan membangun fasilitas baru. Perusahaan ini terkenal karena membantu memenuhi permintaan besar untuk kapasitas komputasi, terutama dari perusahaan AI besar seperti CoreWeave, yang baru saja mengajukan penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat. EcoDataCenter fokus pada pembangunan ruang kolokasi, di mana pelanggan dapat membawa server dan perangkat keras mereka sendiri. Mereka menggunakan energi terbarukan dan bahan bangunan yang ramah lingkungan, seperti kayu laminasi silang. Dengan meningkatnya permintaan untuk pusat data, terutama yang mendukung teknologi AI, EcoDataCenter berusaha untuk menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam hal keberlanjutan dan efisiensi energi.

Analisis Ahli

Peter Michelson
Penggunaan kayu laminasi silang dan energi terbarukan merevolusi cara kita membangun pusat data, meminimalkan dampak lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan komputasi yang terus berkembang.
Robert Björk
Kita harus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan nilai jangka panjang tanpa terburu-buru mengejar IPO, menjaga stabilitas dan inovasi di perusahaan.
International Energy Agency
Data center sebenarnya menyumbang sekitar 1% dari konsumsi listrik global, dan tanpa inovasi hijau, angka itu akan terus membengkak secara dramatis.