DeepSeek Klaim Margin Keuntungan AI Tinggi Namun Realita Belum Sesuai
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
02 Mar 2025
19 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
DeepSeek mengklaim potensi profitabilitas yang tinggi untuk model AI-nya, meskipun perhitungan tersebut bersifat spekulatif.
Aplikasi DeepSeek pernah menjadi yang teratas di App Store, menunjukkan daya tariknya di pasar.
Perusahaan menghadapi tantangan dalam monetisasi dan akses ke teknologi canggih akibat pembatasan perdagangan.
Startup AI asal China, DeepSeek, baru-baru ini mengklaim bahwa model AI mereka bisa sangat menguntungkan, meskipun dengan beberapa catatan. Dalam sebuah postingan di X, DeepSeek menyebutkan bahwa layanan online mereka memiliki "margin keuntungan" sebesar 545%, tetapi angka ini dihitung berdasarkan "pendapatan teoretis." Mereka menjelaskan bahwa jika penggunaan model V3 dan R1 mereka dalam 24 jam dihitung dengan harga R1, mereka bisa mendapatkan pendapatan harian sebesar Rp 9.39 miliar ($562,027) , sementara biaya sewa GPU yang diperlukan hanya Rp 1.45 miliar ($87,072) . Namun, mereka juga mengakui bahwa pendapatan aktual mereka jauh lebih rendah karena berbagai alasan, seperti diskon malam dan harga lebih rendah untuk model V3.
DeepSeek muncul ke permukaan pada bulan Januari dengan model baru yang diklaim dapat bersaing dengan model OpenAI, meskipun dikembangkan dengan biaya yang lebih rendah. Teknologi mereka tidak hanya menarik perhatian pasar saham, tetapi juga membuat aplikasi mereka sempat mengalahkan ChatGPT di App Store Apple, meskipun sekarang sudah turun peringkat. Angka-angka yang mereka bagikan lebih bersifat spekulatif dan menunjukkan potensi keuntungan di masa depan daripada gambaran nyata tentang kondisi keuangan mereka saat ini.
Analisis Ahli
Andrew Ng
Keberhasilan startup AI sangat bergantung pada model bisnis yang berkelanjutan dan inovasi teknis yang efektif, bukan hanya klaim keuntungan teoritis. DeepSeek harus fokus pada penguatan ekosistem layanan berbayar untuk mewujudkan potensi profitabilitasnya.Fei-Fei Li
Meskipun teknologi AI di China berkembang pesat, pembatasan akses terhadap hardware canggih bisa menghambat performa, sehingga perusahaan harus kreatif dalam optimasi dan kolaborasi untuk tetap kompetitif.
