Kontroversi Elon Musk di Pemerintahan Trump Memicu Protes dan Ketegangan Politik
Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
18 Feb 2025
128 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Elon Musk tidak memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan pemerintah meskipun diangkat oleh Trump.
Pengunduran diri Michelle King menunjukkan ketegangan antara DOGE dan lembaga pemerintah lainnya.
Protes publik menunjukkan penolakan terhadap kebijakan yang diusulkan oleh DOGE dan peran Elon Musk dalam pemerintahan.
Baru-baru ini, sebuah dokumen dari Gedung Putih menjelaskan bahwa Elon Musk sebenarnya hanya seorang karyawan di Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) dan tidak memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan dalam pemerintahan Trump. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Musk, yang sebelumnya disebut sebagai 'karyawan pemerintah khusus yang tidak dibayar', hanya dapat memberikan saran kepada presiden dan menyampaikan arahan. Penjelasan ini muncul di tengah protes besar-besaran di mana lebih dari 10.000 orang berkumpul di New York City untuk menentang tindakan pemerintah Trump dan peran Musk di DOGE.
Sementara itu, Michelle King, pejabat yang menjabat sebagai Komisaris Administrasi Jaminan Sosial, mengundurkan diri setelah lebih dari 30 tahun bekerja, karena permintaan DOGE untuk mengakses informasi sensitif tentang penerima Jaminan Sosial yang ditolaknya. Meskipun Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Musk akan memimpin DOGE, kini banyak orang yang meragukan otoritas Musk setelah munculnya protes dan gugatan hukum yang menantang perannya. Banyak pihak mengkritik tindakan Musk, menganggapnya berusaha mengendalikan banyak aspek pemerintahan dengan cara yang tidak sah.
Analisis Ahli
Ed Ongweso Jr
Elon Musk melakukan tindakan ilegal dengan mencoba mengonsolidasikan kontrol besar atas aparat pemerintahan tanpa otoritas resmi.
