Baru-baru ini, sebuah perusahaan startup asal China bernama DeepSeek meluncurkan model AI yang menarik perhatian banyak orang. Akun media sosial yang terkait dengan pemerintah China, termasuk diplomat dan media negara, mempromosikan keberhasilan DeepSeek dan mengklaim bahwa perusahaan ini dapat menyaingi dominasi teknologi AS, terutama dalam bidang AI. Aktivitas ini terlihat di berbagai platform seperti X (dulu Twitter), Facebook, dan Instagram, serta layanan China seperti Toutiao dan Weibo. Setelah peluncuran, aplikasi AI gratis dari DeepSeek bahkan mengalahkan ChatGPT dari AS dalam jumlah unduhan di App Store Apple.Keberhasilan DeepSeek juga berdampak besar pada pasar saham AS, di mana nilai saham perusahaan teknologi seperti Nvidia turun drastis, mengakibatkan kerugian besar dalam satu hari. DeepSeek mengklaim bahwa mereka dapat mengembangkan teknologi AI dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaing dari AS, yang menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang harga di industri ini. Sementara itu, di AS, ada tuduhan bahwa DeepSeek mungkin telah mengakses teknologi dari OpenAI secara tidak sah, dan Departemen Perdagangan AS sedang menyelidiki apakah DeepSeek menggunakan chip yang dilarang untuk dikirim ke China.
Langkah DeepSeek menunjukkan bagaimana Cina semakin agresif dalam mengambil posisi dominan di bidang AI melalui penggunaan teknologi yang efisien dan strategis dalam propaganda digital. Ini menandai babak baru dalam perang teknologi yang bukan hanya soal inovasi, tapi juga pengaruh informasi yang mampu mengguncang pasar global.