TLDR
Metabolisme manusia menyumbang 2,05 miliar ton CO2 setiap tahun, menunjukkan dampak signifikan terhadap perubahan iklim. Kesadaran akan perubahan iklim membuka peluang karier di bidang energi terbarukan dan teknologi bersih bagi anak muda di Indonesia. Inovasi dalam teknologi dan praktik berkelanjutan sangat penting untuk mengurangi emisi karbon di masa depan. Pomodo.id - Setiap kali bernapas, tubuh kita mengeluarkan karbon dioksida (CO2) sisa pengolahan makanan menjadi energi. Sebuah studi internasional yang dipimpin Universitas Bath, Inggris, kini menghitung totalnya untuk seluruh umat manusia: sekitar 2,05 miliar ton CO2 per tahun pada 2015, naik 74% dari 1,18 miliar ton pada 1985.TL;DR:- Metabolisme seluruh manusia di dunia menghasilkan sekitar 2,05 miliar ton CO2 per tahun (estimasi untuk 2015).- Angka itu naik 74% dibanding 1985 (1,18 miliar ton), dan lebih dari 60% kenaikannya disebabkan pertambahan jumlah penduduk.- Peneliti menegaskan bernapas bukan penyebab pemanasan global, karena karbon dalam napas sudah berputar dalam siklus karbon alami.Temuan utamaStudi berjudul "Accounting for global carbon dioxide production from human metabolism between 1985 and 2015: a modelling study" ini terbit di jurnal The Lancet Planetary Health. Penelitian dipimpin Profesor Javier Gonzalez dari Centre for Exercise, Nutrition and Metabolism, Universitas Bath, bersama puluhan peneliti dari berbagai negara. Universitas Bath merilis hasilnya pada 28 Oktober 2026.Menurut tim, kenaikan produksi CO2 dari metabolisme manusia selama tiga dekade itu terutama terjadi karena jumlah manusia bertambah, bukan karena tiap orang menghasilkan CO2 jauh lebih banyak. Lebih dari 60% kenaikan dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk, sementara perubahan produksi CO2 per orang berperan jauh lebih kecil. "Kenaikan itu terutama karena jumlah kita bertambah," kata Gonzalez.Cara menghitungnyaIni adalah studi pemodelan. Para peneliti memakai ribuan pengukuran nyata produksi CO2 harian pada orang dari usia bayi hingga lansia saat menjalani aktivitas sehari-hari. Data pengukuran ini, yang bersumber dari basis data air berlabel ganda (doubly labelled water) milik Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), lalu digabungkan dengan data jumlah penduduk dan berat badan dunia untuk menghitung total global dan perubahannya dari tahun ke tahun.Bernapas bukan pemicu pemanasan globalPara peneliti menekankan bahwa CO2 dari napas berbeda secara mendasar dari emisi bahan bakar fosil. Karbon yang kita embuskan berasal dari makanan, dan karbon dalam makanan itu baru saja diserap tumbuhan dari atmosfer. Artinya, karbon tersebut hanya berputar di dalam siklus karbon alami. Sebaliknya, pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam melepaskan karbon yang terkubur di bawah tanah selama jutaan tahun, sehingga menambah jumlah CO2 di sistem iklim."Kami tidak mengatakan bahwa bernapas mendorong perubahan iklim," ujar Gonzalez. Tim juga tidak menyarankan orang mengurangi aktivitas fisik atau mengubah pola makan untuk menekan CO2 dari tubuh.Mengapa angka ini pentingMenurut peneliti, angka yang lebih akurat membantu ilmuwan menyusun "anggaran karbon" yang lebih lengkap, yaitu catatan dari mana karbon berasal, bagaimana ia berpindah, dan ke mana perginya. Metabolisme manusia merupakan bagian yang cukup besar dari pergerakan karbon, terutama di kota-kota yang padat penduduk, sehingga dapat memengaruhi pengukuran CO2 lokal di perkotaan. Data ini juga dapat membantu memperkirakan seberapa efektif program pengurangan emisi.Perlu dicatat, angka 2,05 miliar ton adalah estimasi model untuk tahun 2015, sehingga belum mencerminkan pertambahan penduduk setelahnya.
Siklus karbon pendek vs panjang
Karbon di Bumi berpindah antara atmosfer, makhluk hidup, lautan, dan daratan. Dalam siklus pendek, tumbuhan menyerap CO2 dari udara lewat fotosintesis, lalu karbon itu masuk ke tubuh manusia dan hewan lewat makanan dan dilepaskan kembali saat bernapas, dalam rentang waktu tahunan. Dalam siklus panjang, karbon tersimpan jutaan tahun sebagai batu bara, minyak, dan gas. Membakar bahan bakar fosil memindahkan karbon simpanan lama itu ke atmosfer, sehingga total CO2 di udara bertambah.
Referensi jurnal: Gonzalez, J.T., dkk. (2026). Accounting for global carbon dioxide production from human metabolism between 1985 and 2015: a modelling study. The Lancet Planetary Health, 101546. DOI: 10.1016/j.lanplh.2026.101546---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 8 Nov 2026, 20.45 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)