TLDR
Joe Barnard berhasil merancang roket khusus untuk mencapai kecepatan supersonik dan ketinggian tinggi. Sistem Fluctus berfungsi untuk mengontrol peluncuran dan pemulihan, tetapi mengalami kesalahan yang menyebabkan kegagalan dalam menangkap pendaratan. Inovasi dalam desain kamera dan sistem pemulihan memperlihatkan kemajuan dalam eksperimen roket amatir meskipun ada tantangan teknis. Pomodo.id - Sebuah video yang diunggah oleh Joe Barnard, seorang YouTuber dan penggemar roket autodidak asal Amerika Serikat, menunjukkan keberhasilan peluncuran roket ke ketinggian hampir 30.000 kaki dengan kecepatan supersonik. Dalam video tersebut, Barnard mengekstrak sebuah pod kamera yang merekam pembukaan parasut dari luar kendaraan secara slow motion setelah peluncuran. Peluncuran roket terjadi di dekat Randsburg, California, dan video tersebut diunggah pada tanggal 5 November 2026. Hal ini menunjukkan kemajuan dalam dunia roket amatir, di mana pandangan tentang peluncuran seperti ini belum pernah tersedia sebelumnya.Barnard merancang roket dan sistem operasi jarak jauhnya khusus untuk mencapai kecepatan Mach 2. Struktur roket menggunakan sembilan lapisan kaca fiber untuk membuat bagian atas, yang meningkatkan kekuatan roket saat menghadapi tekanan dan kecepatan tinggi. Untuk meningkatkan kekuatan pada bagian bawah booster roket, Barnard juga menggunakan tabung serat karbon dan menggerakkan roket dengan mesin kelas impuls yang mampu memberikan thrust sekitar 2300 newtons (N). Selain itu, ia menyusun campuran bahan bakar roket sendiri untuk peluncuran ini. Untuk memonitor kecepatan, tekanan, dan ketinggian roket, Barnard menggunakan sistem komputer terpisah yang disebut Fluctus, yang memutuskan kapan pod untuk kamera harus dikeluarkan.Meski demikian, ada tantangan yang dihadapi dalam eksperimen semacam ini. Sinkronisasi antara waktu peluncuran, kekuatan yang dihasilkan, dan proses pemulihan sangat sulit, terutama ketika kendaraan mengalami percepatan yang besar dalam penerbangan yang tidak stabil. Ini adalah faktor penting yang dibutuhkan agar eksperimen seperti ini tidak gagal, mengingat banyak variabel yang harus dipertimbangkan dalam peluncuran roket.
Sistem pemrosesan penerbangan, seperti Fluctus yang digunakan Barnard, penting dalam eksperimen peluncuran roket. Sistem ini membantu dalam memantau kondisi roket secara real-time, yang merupakan elemen kunci untuk memastikan kesuksesan peluncuran dan pengambilan data yang diinginkan. Teknologi ini dapat dicontohkan di Indonesia dengan aplikasi yang digunakan dalam penerbangan atau navigasi pertanian yang membutuhkan pemantauan yang akurat.
Pengembangan ini membawa beberapa implikasi bagi pemuda Indonesia, terutama dalam bidang teknologi dan inovasi. Bagi mereka yang tertarik menjadi insinyur atau mendapatkan keterampilan dalam pembuatan teknologi baru, eksperimen ini menunjukkan bahwa ada banyak peluang dalam industri roket dan teknologi penerbangan. Dunia teknologi roket adalah area yang sedang berkembang, dan dengan meningkatnya popularitas usaha space-tech, ada potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor ini. Peluncuran seperti yang dilakukan Barnard juga menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya datang dari lembaga besar, tetapi juga dari individu yang memiliki passion dalam bidang ini.Meskipun Indonesia mungkin masih memiliki tantangan dalam hal pengembangan teknologi roket secara mandiri, pelajaran yang bisa diambil dari eksperimen ini adalah pentingnya pendidikan di bidang sains dan teknologi untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Ini adalah saat yang tepat bagi pemuda Indonesia untuk merangkul sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sebagai jalan untuk berkontribusi pada kemajuan negara mereka di era teknologi tinggi ini.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 7 Nov 2026, 22.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)