TLDR
Kontrol atas data tidak hanya tergantung pada lokasi penyimpanan, tetapi juga pada siapa yang dapat mengaksesnya. Pendekatan tradisional terhadap kedaulatan data sering kali tidak memadai di era teknologi yang terus berkembang. Pemimpin teknologi perlu mempertimbangkan bagaimana AI dapat mempengaruhi kontrol dan akses data dalam organisasi mereka. Pomodo.id - Mengontrol kedaulatan data hanya melalui lokasi penyimpanan saja tidaklah cukup, terutama di era Kecerdasan Buatan (AI) yang kian berkembang. Sebuah kasus yang menarik perhatian terjadi pada Juni 2025, ketika sebuah komite Senat Prancis menanyakan kepada seorang eksekutif Microsoft apakah data yang disimpan di server Azure di Prancis tidak akan pernah diberikan kepada otoritas AS tanpa persetujuan eksplisit. Jawaban yang diterima adalah tidak dapat dijamin, menunjukkan bahwa lokasi penyimpanan data hanya merupakan satu aspek dari kedaulatan data. Sebagai tambahan, perusahaan juga harus memiliki kontrol atas siapa yang dapat mengakses data, di bawah otoritas siapa, dan untuk tujuan apa data tersebut digunakan.Di dunia yang semakin mengandalkan layanan cloud, banyak perusahaan yang merasa mereka memiliki kontrol yang lebih baik dibandingkan kenyataannya. Meskipun teknologi dan aturan baru terus berkembang, tantangan utama di seberang lautan Atlantik dan di dalam negeri memiliki kesamaan. Ketika ditanya tentang kedaulatan data, banyak eksekutif teknologi masih memandang peta untuk menunjukkan lokasi di mana data mereka disimpan, tanpa mempertimbangkan pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang memiliki akses ke data tersebut.
Kedaulatan data adalah prinsip bahwa data harus dikelola sesuai dengan hukum dan regulasi di mana data tersebut disimpan atau diproses. Ini penting karena walaupun data Anda tersimpan di dalam negeri, akses dan pengontrolan data tersebut dapat tetap dipegang oleh pemerintah atau perusahaan asing yang mungkin tidak memiliki kepentingan yang sama. Hal ini mengubah cara perusahaan mengelola dan melindungi data mereka, yang sangat penting dalam memastikan keamanan informasi.
Di Indonesia, situasi ini dapat memengaruhi berbagai sektor, terutama bagi para profesional muda yang mulai berkarir di bidang teknologi dan data. Misalnya, kenyataan bahwa 70% organisasi mengakui bahwa alur kerja AI mereka terhubung dengan data sensitif tanpa pengawasan penuh, bisa menjadi peringatan bagi individu yang bekerja dengan data. Dengan meningkatnya ketergantungan pada AI, alumni dan pekerja muda perlu memastikan mereka memiliki pemahaman yang kuat mengenai data dan pengalamatan masalah privasi dan keamanan data.Trend ini menggambarkan bahwa perusahaan di Indonesia harus lebih proaktif dalam mengadopsi praktik yang lebih baik dalam pengelolaan data. Pemahaman yang lebih dalam mengenai pengelolaan data tidak hanya berkontribusi pada keamanan tetapi juga dapat menambah nilai ekonomi. Proposal dari pemerintah Indonesia untuk menghadirkan pusat inovasi di 20 kota sebagai bagian dari transformasi digital menunjukkan pentingnya kontrol dan keamanan data dalam konteks pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang diperkirakan menyentuh angka Rp100 triliun pada tahun 2030, peluang bagi individu yang terampil di bidang teknologi informasi dapat menjadi lebih luas.Saat Indonesia bergerak ke depan di era digital, sangat penting bagi generasi muda untuk menyadari tantangan yang terkait dengan kedaulatan data. Mempelajari cara melindungi data dan memahami implikasi dari regulasi terkait data akan semakin relevan di pasar kerja. Keterampilan ini, yang berdampingan dengan perkembangan AI, dapat menentukan kesiapan individu untuk memasuki industri yang sedang tumbuh pesat ini.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 6 Nov 2026, 01.07 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)