TLDR
Thea Energy bekerja sama dengan MIT untuk menguji magnet superkonduktor yang dirancang untuk stellarator generasi berikutnya. Uji coba magnet bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan dan efisiensi dalam kondisi relevan dengan pembangkit listrik fusion. Pendekatan arsitektur koil datar bertujuan untuk menyederhanakan produksi magnet dan meningkatkan ketersediaan fasilitas fusion komersial. Pomodo.id - Thea Energy yang berkolaborasi dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) sedang menguji magnet superkonduktor berskala penuh untuk pembangunan pembangkit fusi generasi berikutnya. Kolaborasi ini merupakan langkah penting bagi perusahaan untuk mengembangkan pembangkit listrik fusi komersial yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2035. Dalam kerja sama ini, Thea Energy dan Pusat Ilmu Plasma dan Fusi MIT (PSFC) akan menguji koil planel yang dirancang untuk lingkar penuh, guna memastikan bahwa magnet tersebut mampu menahan medan magnet yang sangat kuat dan gaya mekanis yang diharapkan selama operasi pembangkit.Pengujian ini akan dilakukan menggunakan fasilitas pengujian kriogenik di MIT serta keahlian mereka dalam pengembangan magnet superkonduktor suhu tinggi (HTS). Dalam prosesnya, para peneliti juga akan menganalisis efisiensi koil dalam kondisi yang relevan dengan pembangkit, serta mengembangkan model prediktif untuk mengevaluasi kinerja magnet tersebut. Stellarator adalah alat yang menggunakan medan magnet untuk menahan plasma yang sangat panas, di mana reaksi fusi berlangsung. Magnet yang digunakan harus mampu mempertahankan konfigurasi medan yang tepat sambil mengatasi tekanan mekanis yang besar.Namun, terdapat tantangan dalam produksi magnet stellarator tradisional yang umumnya memiliki bentuk tiga dimensi yang kompleks. Hal ini membuatnya sulit dan mahal untuk diproduksi. Sebagai alternatif, Thea Energy mengadopsi pendekatan yang berbeda dengan desain koil planar yang dirancang untuk menyederhanakan produksi, konstruksi, dan pemeliharaan magnet. Desain Eos dari Thea Energy menggunakan 12 koil yang mengelilingi dan sekitar 300 magnet berbentuk program yang dapat dikendalikan.
Pembangkit fusi adalah teknologi yang bertujuan untuk menghasilkan energi dari reaksi fusi, yang merupakan proses di mana dua inti atom bergabung untuk membentuk satu inti yang lebih berat, melepaskan energi dalam jumlah besar. Pembangkit ini memiliki potensi untuk menyediakan energi bersih dan tak terbatas dengan emisi karbon yang sangat rendah dibandingkan dengan sumber energi tradisional. Banyak orang berpikir bahwa fusi adalah proses yang sama dengan pembangkit nuklir, padahal fusi tidak menghasilkan limbah radioaktif dalam jumlah yang sama dan merupakan proses yang berasal dari reaksi yang terjadi di dalam bintang, termasuk Matahari.
Bagi para pemuda di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang karir baru di bidang teknologi dan penelitian energi. Dengan fokus global pada sumber energi bersih dan berkelanjutan, keterampilan terkait fusi energi dan teknologi superkonduktor bisa menjadi aset berharga. Sebagai contoh, pekerjaan di sektor teknologi energi terbarukan semakin dicari, tidak hanya di luar negeri tetapi juga dalam upaya Indonesia untuk meningkatkan kapasitas energi baru dan terbarukan.Investasi besar dalam pengembangan teknologi fusi, seperti yang dilakukan oleh Thea Energy dan MIT, membuat masa depan sumber energi di Indonesia terlihat lebih cerah dan inovatif. Sebagai generasi muda, mempelajari teknologi fusi dan memperdalam pemahaman tentang magnet superkonduktor dapat membuka jalan untuk karir yang sukses dan berdampak bagi lingkungan. Meskipun saat ini pengembangan teknologi ini masih memerlukan waktu, setiap langkah maju membawa potensi yang lebih besar untuk menciptakan solusi energi yang lebih baik bagi dunia, termasuk Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 5 Nov 2026, 11.01 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)