TLDR
Hawkmoths menggunakan genitalia mereka untuk memproduksi ultrasound sebagai pertahanan terhadap serangan kelelawar. Taktik pertahanan ini telah berevolusi secara independen hingga tujuh kali dalam sejarah evolusi hawkmoths. Variasi dalam mekanisme produksi suara menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi di kalangan spesies hawkmoth. Pomodo.id - Hawkmoth menunjukkan kemampuan menarik perhatian melalui strategi unik saat menghadapi predator, terutama kelelawar. Dengan cara yang tidak biasa, beberapa spesies hawkmoth menggunakan organ genital mereka untuk menghasilkan suara ultrasonik yang dapat mengacaukan sonar kelelawar yang sedang mencari mangsa. Suara ini dihasilkan dengan cara menggesekkan sisik khusus pada organ seksual mereka melawan struktur di perut, menghasilkan gelombang suara yang tinggi yang sulit didengar oleh manusia namun efektif untuk menghindari ancaman. Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B pada 4 November ini menggambarkan bahwa taktik ini tidak hanya itu-itu saja, melainkan telah muncul hingga tujuh kali dalam evolusi hawkmoth berbeda, menciptakan berbagai solusi anatomis untuk ancaman yang sama.Fakta menariknya, penelitian selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa banyak spesies ngengat, dari ngengat harimau hingga ngengat penggergajian, telah mengembangkan variasi cara untuk menghasilkan suara ultrasonik ini. Selama evolusi, mereka telah menyesuaikan bentuk fisik dan mekanisme untuk memproduksi suara ini. Marc Holderied, seorang biologis sensor dan peneliti bioakustik di Universitas Bristol, menanggapi bahwa hawkmoth memiliki lebih banyak 'trik' untuk melawan predator daripada yang selama ini dipahami oleh para ilmuwan, menandakan kompleksitas yang lebih besar dalam interaksi antara predator dan mangsa.
Suara ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi di atas ambang pendengaran manusia, yaitu di atas 20 kHz. Suara ini dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk navigasi sonar dan komunikasi oleh hewan seperti kelelawar. Keberadaan suara ultrasonik dari hawkmoth menunjukkan bahwa mereka bisa beradaptasi secara signifikan untuk menghindari ancaman dengan cara yang sangat spesifik. Seringkali, ada anggapan bahwa suara hanya digunakan untuk komunikasi atau peringatan, namun dalam kasus ini, ia berfungsi sebagai alat perlindungan.
Implikasi dari temuan ini sangat relevan dalam konteks pendidikan dan penelitian biologi di Indonesia. Generasi muda, khususnya mahasiswa dan lulusan baru, bisa melihat peluang dalam bidang ekologi dan bioakustik. Dengan adanya teknologi baru untuk mempelajari interaksi antara makhluk hidup di ekosistem, peluang untuk menjadi peneliti atau teknisi di bidang ini semakin terbuka. Industri yang mengandalkan pemahaman tentang perilaku hewan dan adaptasi evolusi bergantung pada generasi mendatang untuk inovasi. Walaupun temuan ini tidak langsung berdampak pada kondisi ekonomi sehari-hari, pemahaman tentang ekosistem dan adaptasi biologi dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan meningkatkan daya saing akademis di tingkat global.Ke depan, tantangan bagi peneliti di Indonesia adalah bagaimana meneruskan studi yang berkaitan dengan adaptasi hewan untuk bertahan di lingkungan yang semakin berubah. Penelitian lanjut dalam bidang ini tidak hanya akan memberikan wawasan baru tentang perilaku hewan tetapi juga membantu meluruskan kesalahan persepsi umum tentang hubungan predator-mangsa, di mana satu pihak tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga beradaptasi dengan keahlian yang mungkin belum sepenuhnya dipahami.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 4 Nov 2026, 08.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)