TLDR
Serangan terhadap Binance melibatkan teknik peretasan canggih dan manipulasi sosial yang kompleks. Binance berhasil mendeteksi dan menangani sebagian besar pencurian, dengan sebagian besar aset yang dicuri berhasil dibekukan. Keamanan perangkat dan kesadaran terhadap potensi ancaman dari proses rekrutmen perlu ditingkatkan di perusahaan teknologi. Pomodo.id - Cara hacker berhasil menipu Binance menggunakan wawancara palsu untuk mencuri $6.3 miliar atau sekitar Rp 94 triliun merupakan tindakan kejahatan siber yang terencana dengan sangat baik. Penipuan ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan memakan waktu berbulan-bulan untuk menjerat salah seorang karyawan Binance agar mau mengunduh perangkat lunak berbahaya di laptopnya.Kejadian ini bermula ketika seorang pengembang di Binance tanpa sadar mengunduh installer yang telah dirusak melalui iklan Google yang berbahaya. Dalam beberapa bulan setelahnya, seorang pelaku yang berpura-pura menjadi perekrut pekerjaan menghubungi insinyur perangkat lunak di perusahaan itu dan mengatur beberapa panggilan serta sesi wawancara. Selama proses wawancara tersebut, pelaku berbagi halaman media sosial untuk membangun kepercayaan dan kemudian meminta insinyur tersebut untuk mengunduh tugas coding yang ternyata merupakan malware. Meskipun tim keamanan Binance mengidentifikasi dan mengganti perangkat yang terkompromi, mereka tidak dapat mendeteksi serangan berikutnya yang memanfaatkan celah pada perangkat untuk mengakses sistem internal Binance.Berdasarkan laporan, para peretas teridentifikasi berasal dari Korea Utara dan menggunakan akun media sosial palsu untuk mengelabui karyawan Binance. Hacker ini mampu mengeksploitasi kemalangan sosial dan psikologis, dan melakukan serangkaian teknik rekayasa sosial yang telah diperingatkan oleh para peneliti sebagai ancaman serius dalam dunia siber. Dengan mengeksploitasi celah pada laptop yang terkompromi, mereka dapat mengeksekusi transaksi penarikan tidak sah dan akhirnya mencuri aset dalam jumlah yang luar biasa besar.
Hacker adalah individu atau kelompok yang melakukan akses ilegal ke sistem komputer dan jaringan, sering dengan niat jahat. Tindakan mereka dapat berupa pencurian data, kerusakan pada infrastruktur teknologi, hingga peretasan finansial yang melibatkan jumlah uang yang besar. Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa hacker tidak selalu beroperasi dari kegelapan; banyak yang menggunakan metode cerdas dan profesional, seperti meniru perusahaan yang sah untuk memperdaya individu menjadi sasaran.
Peristiwa ini memperlihatkan betapa pentingnya kesadaran akan keamanan siber, terutama bagi para profesional teknologi di Indonesia. Dengan berkembangnya sektor digital dan keuangan di negara kita, ada keperluan mendesak untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman akan ancaman siber yang semakin kompleks. Bagi mereka yang ingin berkarir di bidang IT atau investasi cryptocurrency, pengetahuan mengenai taktik hacker bisa menjadi keuntungan penting. Kejadian ini juga menunjukkan bahwa kebutuhan untuk melindungi informasi pribadi dan aset berharga menjadi lebih krusial dari sebelumnya.Melihat skala pencurian yang terjadi, yang dapat dibandingkan dengan biaya sewa kos bulanan di beberapa kota besar di Indonesia, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya kewaspadaan terhadap segala bentuk penawaran yang tampak terlalu baik untuk menjadi kenyataan, terutama dalam dunia kerja yang kompetitif. Ini bukan sekadar mengenai teknologi, tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dalam era digital, di mana setiap klik dapat berpotensi merugikan. Kejadian ini tentunya menjadi pengingat untuk selalu mengutamakan keamanan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah pekerjaan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 4 Nov 2026, 06.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)