TLDR
Pengeluaran untuk keamanan perusahaan seharusnya berfokus pada pencegahan daripada merespons insiden. Pendekatan tradisional dalam keamanan siber mahal dan tidak efisien. Keamanan yang proaktif dapat mengurangi biaya dan risiko yang terkait dengan pelanggaran data. Pomodo.id - Strategi keamanan siber yang selama ini diterapkan umumnya berfokus pada respons terhadap serangan siber setelah insiden terjadi. Model ini berputar pada siklus deteksi intrusi, penanganan, penyelidikan, dan pemulihan. Namun, model ini kini dianggap semakin tidak efektif dan mahal. Banyak ahli, termasuk Austin Berglas, Direktur Operasi Siber di Nardello & Co., mendorong agar pendekatan ini beralih dari sekadar merespons ke pencegahan yang lebih proaktif.Data menunjukkan bahwa rata-rata biaya untuk menanggulangi pelanggaran data mendekati $5 juta atau sekitar Rp75 miliar per insiden. Ini adalah beban yang sangat berat bagi perusahaan, terutama bagi yang baru memulai di Indonesia. Menggunakan sumber daya besar-besaran untuk merespons insiden siber justru akan menggeser fokus dan mengalihkan perhatian dari penguatan pertahanan siber yang lebih efisien. Sebuah laporan juga mengindikasikan bahwa pengeluaran global untuk keamanan siber telah mendekati $240 miliar, tetapi biaya pelanggaran tetap tinggi karena sebagaimana adanya serangan baru yang muncul.Namun, beralih ke pendekatan pencegahan tidak begitu saja berarti bahwa respons terhadap insiden menjadi tidak relevan. Ada tantangan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam dunia yang terus berubah dengan ancaman siber yang semakin canggih. Selain itu, meningkatkan pertahanan tidak bisa dilakukan dengan instan; semua perubahan ini membutuhkan waktu dan investasi yang tepat. Maka dari itu, meskipun ada potensi penghematan, risiko tetap ada jika organisasi tidak secara bersamaan memperkuat respons mereka terhadap kemungkinan ancaman.Perubahan dalam pendekatan ini dapat membawa dampak signifikan bagi para pemuda Indonesia. Dengan berfokus pada pencegahan, peluang kerja dalam bidang keamanan siber akan meningkat. Keahlian dalam mencegah serangan siber di masa depan akan menjadi sangat dicari mengingat tren yang meningkat dalam digitalisasi berbagai sektor. Ini menciptakan kebutuhan bagi universitas dan lembaga pendidikan di Indonesia untuk menyesuaikan kurikulum mereka agar lebih fokus pada penguatan kemahiran dalam menangani teknologi keamanan siber yang mutakhir.
Keamanan siber adalah bidang yang berfokus pada perlindungan sistem komputer, jaringan, dan data dari serangan digital. Ini melibatkan penggunaan perangkat lunak, hardware, dan protokol yang dirancang untuk mempertahankan informasi dari pelanggaran. Kesalahpahaman umum adalah bahwa keamanan siber hanya penting bagi perusahaan besar, padahal setiap individu dan organisasi, termasuk UKM, harus memiliki strategi keamanan siber yang berharga untuk melindungi data yang sensitif.
Saat Indonesia terus berkembang dalam sektor teknologi dan digital, memahami perkembangan ini dalam keamanan siber menjadi penting. Jika para pemuda dan masyarakat luas tidak sadar akan tantangan yang ada serta tidak mempersiapkan diri dengan keterampilan yang diperlukan, mereka mungkin kehilangan peluang pekerjaan di industri yang relevan. Dalam konteks ini, perubahan strategi yang menekankan pencegahan berpotensi membuat negara lebih tahan terhadap serangan siber dan lebih siap dalam menghadapi tantangan masa depan di ruang digital.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 3 Nov 2026, 22.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)