TLDR
Penemuan Masripithecus menunjukkan bahwa evolusi kera tidak terfokus hanya pada satu wilayah. Kisah Masripithecus dapat mendorong minat dalam penelitian ilmiah, khususnya di bidang paleontologi. Pemahaman tentang evolusi kera dapat memengaruhi konservasi dan keragaman hayati di Indonesia. Pomodo.id - TL;DR: Sepotong rahang bawah berusia sekitar 17–18 juta tahun dari Wadi Moghra, Mesir utara, ternyata milik spesies kera purba baru, Masripithecus moghraensis. Ini fosil kera pertama yang pasti dari Afrika Utara, dan analisis silsilahnya menempatkannya lebih dekat ke garis keturunan kera modern dibanding kera purba mana pun dari Afrika Timur. Temuan ini mengguncang anggapan lama bahwa nenek moyang bersama kera modern berasal dari Afrika Timur.Studi yang dipimpin Shorouq F. Al-Ashqar dari Mansoura University Vertebrate Paleontology Center (MUVP), Mesir, bersama Hesham Sallam (penulis senior) dan Erik Seiffert dari University of Southern California, terbit di jurnal Science pada 26 Maret 2026 (vol. 391, edisi 6792). ScienceDaily kembali mengangkatnya pada 1 November 2026. Fosil dikumpulkan dalam ekspedisi tim Sallam pada 2023 dan 2024; proyek Al-Ashqar sendiri dimulai pada 2021, dan rahang berisi gigi geraham bungsu ditemukan pada 2024. Sallam menyebut timnya menghabiskan lima tahun mencari fosil semacam ini.Yang tersisa hanya sebagian rahang bawah yang kokoh. Gigi taring dan premolarnya besar, sementara gerahamnya bermahkota membulat dengan permukaan kunyah bertekstur dan email tebal. Dari ciri ini, peneliti menyimpulkan Masripithecus terutama memakan buah, tetapi sanggup mengolah makanan keras seperti kacang dan biji saat diperlukan. Pada masa itu Mesir masih tertutup hutan tropis hingga subtropis, dan tim mengaitkan fleksibilitas pola makan ini dengan musim yang makin tegas di Afrika utara dan Jazirah Arab.
Hominoid adalah kelompok kera tanpa ekor, yang mencakup owa dan siamang (kera kecil), orangutan, gorila, simpanse, serta manusia. Kera dibedakan dari monyet antara lain oleh gigi geraham yang relatif datar dan ukuran geraham kedua dan ketiga yang mirip.
Untuk menentukan posisinya di pohon keluarga, tim memakai analisis Bayesian "tip-dating" yang menggabungkan ciri anatomi kera hidup dan punah, data genetik kera modern, serta umur fosil. Hasilnya, Masripithecus berada paling dekat dengan garis yang melahirkan semua kera modern. Analisis pergerakan geografis mengarah pada kemungkinan bahwa nenek moyang bersama kera modern hidup di Afrika utara, Arab, Levant, atau Mediterania timur pada Miosen Awal (sekitar 23–16 juta tahun lalu), lalu menyebar ke Eurasia, dan sebagian populasinya kemudian kembali ke Afrika. Pergeseran lempeng dan perubahan muka laut yang menyambungkan Afrika, Arab, dan Eurasia saat itu menjadi latar penyebarannya. Seiffert mengaku dulu menganggap asal-usul di Afrika Timur paling mungkin, tetapi analisis baru ini kini menantangnya dengan kuat.Ada batasan penting. Para penulis menegaskan Masripithecus belum tentu nenek moyang langsung manusia maupun kera modern; nilainya terutama sebagai petunjuk tentang dari mana garis keturunan itu berasal. Karena hanya rahang yang ditemukan, ukuran tubuh, cara bergerak, dan perilakunya belum diketahui. Pakar yang tidak terlibat juga berhati-hati: Susanne Cote dari University of Calgary menduga kera dulu tersebar lebih luas di Afrika daripada yang terekam fosil, karena banyak wilayah belum diteliti, sehingga Afrika Utara belum tentu satu-satunya tempat mereka hidup. James Rossie dari Stony Brook University menilai temuan ini menunjukkan pemahaman tentang evolusi kera di Afro-Arabia masih punya banyak titik buta. Al-Ashqar menyebut Maroko, Tunisia, dan Libya berpotensi menyimpan fosil kera awal yang belum ditemukan.Bagi Indonesia, studi ini menyentuh sejarah kerabat yang hidup di hutan kita sendiri: orangutan di Sumatra dan Kalimantan, serta owa dan siamang, sama-sama keturunan nenek moyang bersama kera modern yang asal-usulnya kini dipertanyakan ulang.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 3 Nov 2026, 12.44 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)