TLDR
Kepala turbin HPT di mesin GE mengalami keretakan prematur yang mempengaruhi biaya pemeliharaan. Inspeksi lebih sering diperlukan untuk mencegah risiko kerusakan lebih lanjut pada baling-baling. Kualitas dan keandalan produk aerospace Amerika Serikat sedang dalam sorotan global. Pomodo.id - Mesin jet yang digunakan dalam Boeing 787, hasil produksi GE Aerospace, kini menghadapi masalah serius yang berkaitan dengan keandalan dan keselamatan penerbangan. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa bilah turbin bertekanan tinggi (HPT) dalam mesin-mesin ini mengalami keretakan prematur setelah hanya sekitar 1.000 siklus penerbangan. Meskipun keretakan ini tidak langsung mengancam keselamatan pesawat, hal ini meningkatkan biaya perawatan dan memberikan tekanan tambahan pada operasi maskapai.Dalam ringkasan penelitian yang dipublikasikan oleh Xia Xiaofeng, seorang insinyur dari Xiamen Airlines, dijelaskan bahwa bilah HPT generasi kedua dan kedua plus dari mesin GE cenderung mengalami kerusakan akibat lelah termal setelah beroperasi di bawah tekanan tinggi dan suhu ekstrem. Keretakan ini sering muncul di antara lubang pendinginan bilah, dan dapat merambat serta menyatu, yang berpotensi menyebabkan pecahan logam terlepas ke dalam mesin. Sampai saat ini, tercatat lima mesin harus dicopot dari layanan akibat cacat pada bilah HPT ini.Permasalahan ini menjadi sorotan di tengah kritik global terhadap kualitas manufaktur produk udara dari Amerika Serikat. Dari segi statistik, hingga Agustus 2025, sekitar 15% dari total armada mesin GEnx—yang dioperasikan oleh Boeing 787—kini dilengkapi dengan bilah HPT jenis ini. Hal ini menggambarkan tantangan yang dihadapi industri penerbangan, di mana desain dan produksi mesin harus segera ditingkatkan untuk memastikan keandalan dan efisiensi.
Bilah turbin adalah komponen penting dalam mesin pesawat yang digunakan untuk mengubah energi termal menjadi energi mekanik. Mereka beroperasi di kondisi ekstrim dan harus dirawat dengan hati-hati karena kerusakan yang terjadi, seperti yang terlihat di mesin GE, dapat berakibat fatal. Keretakan pada bilah ini dapat menyebabkan perawatan yang lebih mahal dan bahkan pencabutan mesin dari layanan, yang mempengaruhi operasi maskapai secara keseluruhan.
Kondisi ini dapat berdampak langsung pada anggaran dan operasi maskapai penerbangan di Indonesia, yang mungkin juga menggunakan model pesawat ini. Jika maskapai harus menyerap biaya tambahan akibat perawatan yang meningkat, bisa ada pengaruh pada tiket penerbangan dan biaya yang dibebankan kepada penumpang. Selain itu, masalah ini mendorong perlunya inovasi dan peningkatan dalam pendidikan serta pelatihan di bidang teknik dirgantara, yang semakin relevan untuk generasi muda yang bercita-cita berkarir di sektor ini.Sebagai generasi muda Indonesia yang berpotensi berkarir di bidang teknik atau penerbangan, memahami isu ini penting. Hal ini menggambarkan bahwa meskipun teknologi semakin canggih, tantangan dalam kualitas dan keamanan tetap ada. Di dunia yang diwarnai inovasi terus-menerus, pergelangan tangan untuk memahami lebih jauh tentang teknologi di balik moda transportasi seperti pesawat terbang, justru merupakan peluang untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dan aman.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 2 Nov 2026, 22.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)