TLDR
Beberapa spesies buaya mampu bertahan hidup dari kepunahan massal yang disebabkan oleh asteroid berkat iklim tropis. Adaptasi terhadap lingkungan berperan penting dalam kelangsungan hidup spesies di tengah perubahan ekstrem. Studi fosil menunjukkan bahwa tidak semua spesies berhasil bertahan, menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut tentang ekosistem kuno. Pomodo.id - Mengapa buaya selamat ketika asteroid Chicxulub memusnahkan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu? Studi tim University College London (UCL) yang terbit di jurnal Science Advances pada 21 Oktober 2026 menawarkan jawaban: sepanjang sejarahnya, kerabat buaya selalu "mengikuti" iklim hangat, dan wilayah tropis tetap cukup hangat untuk mereka setelah tumbukan.TL;DR: Dari analisis lebih dari 7.000 fosil dan 400-an spesies, peneliti menemukan kerabat buaya berpindah mengikuti iklim hangat selama sekitar 250 juta tahun alih-alih beradaptasi dengan iklim baru. Simulasi menunjukkan wilayah ekuator dan subtropis tetap layak huni bagi mereka setelah tumbukan asteroid, sementara habitat dinosaurus non-unggas menyusut jauh lebih parah.Penelitian dipimpin ahli paleontologi vertebrata Dr. Alfio Alessandro Chiarenza dari UCL Earth Sciences, dengan Prof. Philip Mannion sebagai penulis senior. Tim menggabungkan pohon kekerabatan lebih dari 400 spesies punah dan hidup dari garis keturunan buaya (Pseudosuchia), lebih dari 7.000 catatan fosil, sekitar 130.000 catatan sebaran buaya modern, dan 52 rekonstruksi iklim purba global untuk memodelkan habitat yang cocok selama 245 juta tahun.Hasilnya, kerabat buaya cenderung bertahan pada "relung iklim" yang sama. Saat Bumi memanas, sebaran mereka meluas ke arah kutub; saat mendingin, mereka mundur ke tropis. Sekitar 50 juta tahun lalu, ketika suhu global kira-kira 10°C lebih tinggi dari sekarang dan kutub tanpa es permanen, kerabat buaya hidup di lintang tinggi Amerika Utara, Eropa, bahkan Antarktika. Suhu optimum leluhur Pseudosuchia diperkirakan sekitar 23°C, sedangkan garis keturunan buaya modern berada di kisaran 26-30°C.Ada dua pengecualian. Sekitar 94 juta tahun lalu, pada masa sangat panas yang disebut Cretaceous Thermal Maximum, satu cabang awal menuju buaya modern bergeser ke suhu optimum sekitar 35°C. Sekitar 34 juta tahun lalu, satu kelompok di Australasia yang kini punah beradaptasi dengan kondisi yang makin kering.Untuk masa setelah tumbukan, tim mensimulasikan penurunan sinar matahari akibat debu dan aerosol. Dengan penurunan 5% atau 10%, wilayah ekuator dan subtropis tetap layak huni bagi buaya. Hanya penurunan 15%, skenario yang dinilai peneliti tidak mungkin terjadi, yang menghapus iklim layak di semua tempat. "Asteroid tidak membuat seluruh planet sama-sama tidak ramah bagi setiap kelompok," kata Chiarenza.Konsep kunci: Pseudosuchia adalah garis keturunan besar yang mencakup buaya modern dan kerabat purbanya. Dulu kelompok ini sangat beragam, mulai dari herbivora berlapis baja, predator darat, hingga raksasa seperti Sarcosuchus dan Deinosuchus yang panjangnya sekitar 12 meter. Konservatisme relung iklim berarti suatu kelompok cenderung mempertahankan kisaran suhu dan kondisi yang sama dari generasi ke generasi, sehingga responsnya terhadap perubahan iklim adalah berpindah, bukan berubah.Peneliti menegaskan iklim hanya salah satu faktor. Ukuran tubuh kecil pada banyak spesies yang selamat, hidup semi-akuatik, pola makan generalis, metabolisme berdarah dingin yang hemat energi, serta kemampuan dorman saat kondisi buruk kemungkinan juga berperan. Hasil studi ini juga bertumpu pada pemodelan iklim purba dan catatan fosil yang tidak lengkap.Temuan ini relevan untuk masa kini. Jika strategi utama buaya menghadapi perubahan iklim adalah berpindah, jalan, lahan pertanian, dan kota kini membatasi ruang gerak itu. Mannion menyebut spesies masa kini membutuhkan ruang untuk bergerak seiring Bumi memanas. Indonesia sendiri menjadi rumah bagi beberapa spesies buaya, seperti buaya muara, buaya Irian, buaya Siam, dan senyulong, yang hidup di sungai, rawa, dan pesisir. Studi ini tidak meneliti Indonesia secara khusus, tetapi pesannya tentang pentingnya koridor habitat berlaku pula bagi satwa di sini.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 31 Okt 2026, 20.45 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)