TLDR
Konsumsi tinggi pemanis buatan dapat mempercepat penurunan kognitif hingga 62%. Generasi muda perlu mempertimbangkan dampak pemanis buatan dalam pilihan diet mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara diet, kesehatan mental, dan kognisi. Pomodo.id - Studi kohort besar di Brasil mengaitkan konsumsi tinggi pemanis rendah dan nol kalori dengan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat yang lebih cepat. Dalam analisis terhadap 12.772 orang dewasa, kelompok dengan asupan tertinggi mengalami penurunan kognitif global 62% lebih cepat dibanding kelompok dengan asupan terendah, setara sekitar 1,6 tahun penuaan otak tambahan. Studi yang dipimpin Claudia Kimie Suemoto dari Universidade de São Paulo ini terbit di jurnal Neurology pada September 2025 dan kembali diangkat ScienceDaily pada 29 Oktober 2026.Peserta berasal dari kohort ELSA-Brasil, berusia rata-rata 52 tahun di awal studi, dan diikuti sekitar delapan tahun dengan tes kognitif pada tiga gelombang: kelancaran verbal, memori kerja, mengingat kata, dan kecepatan pemrosesan. Asupan tujuh pemanis (aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, xilitol, sorbitol, dan tagatosa) diukur lewat kuesioner makanan. Kelompok terendah rata-rata mengonsumsi 20 mg per hari, sedangkan kelompok tertinggi 191 mg per hari, kira-kira setara kandungan aspartam dalam satu kaleng soda diet. Kelompok menengah mengalami penurunan 35% lebih cepat, setara sekitar 1,3 tahun.Enam dari tujuh pemanis, yaitu aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, sorbitol, dan xilitol, berkaitan dengan penurunan yang lebih cepat, terutama pada daya ingat. Tagatosa tidak menunjukkan kaitan. Pola ini terlihat pada peserta di bawah 60 tahun, tidak pada peserta 60 tahun ke atas, dan lebih kuat pada penderita diabetes. Suemoto menyebut sebagian pemanis mungkin berdampak negatif pada kesehatan otak dalam jangka panjang, namun menegaskan perlu riset lanjutan untuk mengonfirmasinya. Editorial pendamping di Neurology oleh Thomas M. Holland dari Rush University menilai konseling diet sebaiknya ikut memperhitungkan dampak kognitif bahan tambahan pangan, bukan hanya risiko jantung.Temuan ini perlu dibaca hati-hati. Studi bersifat observasional sehingga hanya menunjukkan asosiasi, bukan sebab-akibat. Asupan dilaporkan sendiri oleh peserta dan hanya diukur sekali di awal. Ada kemungkinan kausalitas terbalik, karena orang dengan diabetes atau obesitas, yang sudah berisiko mengalami gangguan kognitif, lebih sering memilih pemanis pengganti gula. Studi juga tidak mencakup semua pemanis, misalnya sukralosa, dan tidak memiliki data pencitraan otak atau biomarker.
Studi Observasional vs Uji Klinis
Studi observasional mengamati kebiasaan dan kondisi orang tanpa mengintervensi, lalu mencari pola hubungan. Hasilnya bisa menunjukkan kaitan, tetapi tidak membuktikan bahwa satu hal menyebabkan yang lain, karena faktor lain bisa ikut berperan. Uji klinis acak membagi peserta secara acak ke perlakuan berbeda sehingga lebih mampu menunjukkan sebab-akibat.
Di Indonesia, aspartam, sakarin, asesulfam-K, sorbitol, dan xilitol lazim ditemukan dalam minuman bersoda diet, permen dan permen karet bebas gula, serta produk berlabel rendah gula, dan banyak dipilih penderita diabetes sebagai pengganti gula. Studi ini belum mengubah rekomendasi resmi mana pun. Pembaca dengan diabetes sebaiknya tidak menghentikan atau mengganti pola konsumsi tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena kembali ke gula juga membawa risiko tersendiri.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 31 Okt 2026, 12.45 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)