TLDR
Grafena dapat digunakan sebagai alternatif untuk silikon dalam sel surya dan elektronik berbasis cahaya. Metode baru menggunakan medan magnet dan tegangan untuk memisahkan elektron dan lubang dalam grafena. Sel surya berbasis grafena memiliki potensi untuk menyerap energi dari foton inframerah, yang tidak dapat dihasilkan oleh silikon. Pomodo.id - Penelitian di Helmholtz-Zentrum Dresden-Rossendorf (HZDR) di Jerman mengungkapkan cara baru dalam pembuatan sel surya dan sensor cahaya dengan memanfaatkan grafena sebagai material utama, menggantikan silikon yang biasa digunakan. Potensi inovasi ini membuka kemungkinan baru bagi penggunaan cahaya sebagai sumber energi langsung di masa depan, yang dapat membawa perubahan signifikan di industri elektronik. Grafena adalah lapisan karbon dua dimensi yang sangat tipis, memiliki kemampuan konduksi listrik yang luar biasa, namun mengalami keterbatasan dalam mengonversi cahaya menjadi energi listrik.Meskipun gelombang cahaya dapat menggerakkan elektron dalam grafena, elektron tersebut tidak dapat dimanfaatkan sebagai arus listrik karena "lubang" yang ditinggalkan tidak terpisah dan tidak dapat diarahkan ke elektroda, suatu hal yang dapat dilakukan dengan sangat baik oleh silikon. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa semikonduktor seperti silikon memiliki “bandgap”, yakni tingkat energi yang diperlukan untuk menggerakkan elektron dari keadaan energi rendah ke pita konduksi yang lebih tinggi, di mana elektron dapat bergerak bebas. Sementara itu, grafena tidak memiliki bandgap ini.Ralf Schützhold, seorang profesor fisika teoritis di HZDR, menyarankan penciptaan bandgap pada grafena dengan cara memotong dan melipatnya untuk menciptakan tepi-tepi kecil. Dengan mengatur struktur grafena, para peneliti dapat meningkatkan potensi grafena dalam menghasilkan listrik dari cahaya secara lebih efisien, menjadikannya sebagai pilihan yang lebih baik untuk sel surya dan komponen elektronik masa depan. Dalam konteks ini, penggunaan grafena dapat menjadi bagian dari revolusi dalam teknologi energi terbarukan.
Grafena adalah material yang terdiri dari satu lapisan atom karbon yang tersusun dalam pola heksagonal. Kekuatan utama grafena adalah konduktivitas listriknya yang sangat tinggi, menjadikannya bahan unggulan di berbagai bidang mulai dari tampilan fleksibel hingga baterai lithium. Meskipun grafena tidak secara langsung dapat mengonversi cahaya menjadi energi, penelitian saat ini berupaya untuk mengoptimalkannya sehingga dapat berfungsi dengan cara yang mirip dengan silikon dalam konteks energi solar.
Bagi pemuda di Indonesia, perkembangan ini berpotensi sangat relevan. Dengan bertumbuhnya sektor energi terbarukan, terutama dalam penggunaan teknologi seperti grafena untuk sel surya, peluang kerja di bidang teknologi energi akan meningkat. Sebagai contoh, industri renewable energy di Indonesia diprediksi akan terus berkembang, dan keterampilan dalam teknologi baru seperti grafena akan menjadi nilai tambah yang signifikan bagi mereka yang ingin berkarir di bidang ini.Melihat bahwa use case grafena semakin meluas, berbagai perusahaan dan start-up di Indonesia mungkin mulai mencari tenaga kerja dengan pengetahuan di bidang riset material dan teknologi energi baru. Oleh karena itu, bagi mahasiswa dan fresh graduate dalam riset teknik atau sains, mempelajari struktural material dan sifat-sifat grafena bisa membuka peluang karir yang lebih baik. Di masa depan, seiring dengan meningkatnya inovasi, diharapkan bisa muncul produk-produk baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan, mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 31 Okt 2026, 00.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)