TLDR
Burung Manx shearwater mengalami jet lag yang mempengaruhi navigasi mereka saat terbang cepat melintasi zona waktu. Ketidakcocokan antara jam internal burung dan waktu lokal dapat menyebabkan kesalahan arah yang kecil namun terus-menerus, bahkan saat dekat dengan pantai. Penelitian ini menunjukkan bahwa burung dapat mengintegrasikan berbagai petunjuk navigasi, yang mungkin berguna saat menghadapi perubahan lingkungan akibat perubahan iklim. Pomodo.id - Burung migratori, seperti shearwaters Manx, dapat mengalami jet lag ketika mereka terbang dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cepat. Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa perjalanan cepat dari timur ke barat dapat membuat jam internal mereka tidak sinkron dengan waktu lokal, mengakibatkan kesalahan dalam menentukan arah terbang yang tepat. Ini mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh burung selama migrasi jarak jauh, terutama ketika mereka harus mengandalkan posisi matahari sebagai kompas navigasi.Melalui pengamatan terhadap lebih dari 1.000 burung shearwater Manx yang dibekali pelacak GPS selama lebih dari dua dekade, peneliti menemukan bahwa burung ini dapat terbang sejauh 1.000 kilometer untuk mencari makanan. Data mengungkapkan bahwa ketika burung ini terbang di lintasan yang cepat, waktu lokal yang berubah tidak sejalan dengan pengaturan jam internal mereka. Sebagai contoh, ketika burung bergerak ke timur, matahari bergerak lebih cepat ke posisi yang berbeda di langit, dan ini mengganggu kemampuan mereka untuk menggunakan matahari sebagai panduan. Hal ini menegaskan bahwa ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang membantu mengatur siklus harian mereka, sangat kritis untuk navigasi yang akurat.Meskipun hasil penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai navigasi burung, ada keterbatasan dalam studi ini. Penelitian ini hanya menerapkan pada spesies tertentu dan di lokasi tertentu, yang berarti bahwa mungkin ada banyak faktor lain yang memengaruhi perilaku migrasi burung yang tidak terungkap, seperti cuaca, lingkungan, atau perilaku predator di sepanjang rute migrasi mereka. Peneliti menyadari bahwa meskipun penelitian ini memberikan wawasan penting, terdapat banyak aspek lain dari migrasi burung yang masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut.Perubahan cara burung migratori menentukan arah dapat berdampak signifikan bagi para peneliti dan ahli lingkungan di Indonesia, terutama karena Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman hayati dan merupakan jalur migrasi banyak spesies. Dengan memahami lebih dalam bagaimana burung menggunakan navigasi alami mereka, penting untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan lingkungan atau iklim dapat memengaruhi rute migrasi mereka di masa depan. Ini membawa dampak bagi pelestarian spesies di Indonesia, yang dapat berkontribusi pada keseimbangan ekosistem.
Ritme sirkadian adalah jam biologis yang mengatur siklus aktif dan istirahat dalam tubuh makhluk hidup, termasuk burung. Ritme ini sangat penting untuk membantu mereka beradaptasi dengan perubahan waktu lokal. Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa ritme sirkadian ini bersifat tetap, padahal ia dapat terganggu oleh perubahan lingkungan seperti perubahan waktu, migrasi, atau polusi.
Jadi, meskipun penelitian ini menarik bagi para ilmuwan dan peneliti, bagi orang muda di Indonesia, ini juga mengisyaratkan bahwa ada peluang dalam bidang penelitian lingkungan dan pelestarian. Dengan meningkatnya pemahaman tentang migrasi hewan, bisa muncul peluang untuk karier di bidang biologi, ekologi, atau teknologi pelacakan dan pemantauan lingkungan. Melihat ke depan, industri yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan sumber daya alam bisa menjadi jalur karier yang menjanjikan bagi generasi muda, menumbuhkan inovasi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem alami di Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 30 Okt 2026, 01.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)