TLDR
Simulasi kosmologi besar membantu memahami inflasi kosmik dan evolusi struktur alam semesta. Superkomputer Aurora mampu menangani simulasi dengan volume data yang sangat besar. Data sintetik dari simulasi dapat membantu meningkatkan akurasi pengamatan dari proyek astronomi seperti DESI dan SPHEREx. Pomodo.id - Peneliti di Laboratorium Nasional Argonne, yang dikelola oleh Departemen Energi AS, baru-baru ini menyelesaikan dua simulasi kosmologi terbesar yang pernah ada, modeling 13,4 triliun partikel materi gelap di wilayah semesta yang membentang sejauh 28,6 miliar tahun cahaya. Simulasi ini dijalankan di Aurora, superkomputer exascale Argonne, dengan menggunakan 8.100 node komputasi dan sekitar 50.000 unit pemrosesan grafis (GPU) untuk setiap perhitungan. Tim peneliti berhasil menyelesaikan kedua simulasi dan sebagian besar analisis datanya dalam waktu sekitar empat hari. Hasil dari simulasi ini memberikan dataset besar yang dirancang untuk membantu ilmuwan menyelidiki awal mula alam semesta dan menginterpretasikan observasi dari survei astronomi besar.Dipimpin oleh ilmuwan komputasi Argonne, Nicholas Frontiere, proyek ini berfokus pada pemahaman inflasi kosmik, periode ekspansi sangat cepat yang diduga terjadi segera setelah ledakan besar. Inflasi ini diyakini telah meregangkan fluktuasi kuantum kecil ke jarak yang sangat jauh, dan selama miliaran tahun, gravitasi menguatkan variasi kepadatan kecil ini, yang kemudian membantu membentuk jaring kosmik dari galaksi dan materi gelap yang kita amati saat ini. Materi gelap, meskipun tidak dapat dilihat langsung dengan cahaya biasa, memiliki pengaruh gravitasi yang membantu membentuk distribusi galaksi.
Materi gelap adalah jenis materi yang tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, menjadikannya tidak terlihat. Meskipun demikian, pengaruh gravitationalnya terhadap objek di sekitarnya sangat besar, dan sebagian besar galaksi berinteraksi dengan materi gelap ini. Ini penting karena pemahaman kita tentang struktur kosmik sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh materi gelap, meskipun keberadaannya tidak dapat dideteksi secara langsung.
Meski simulasi ini merupakan terobosan penting, ada keterbatasan dalam pemahaman kita tentang fisika yang mendorong inflasi kosmik. Pertanyaan tetap ada mengenai mekanisme yang menggerakkan inflasi dan bagaimana fenomena ini berhubungan dengan hukum fisika yang kita ketahui sekarang. Kesimpulan dari simulasi ini juga tergantung pada model yang digunakan, dan hasil yang diperoleh perlu terus dievaluasi dan diperbarui seiring dengan perkembangan penelitian di bidang ini.Untuk generasi muda di Indonesia, hasil dari penelitian ini berpotensi mengubah cara kita memahami struktur alam semesta. Pemahaman yang lebih baik tentang kosmos dapat memengaruhi pengembangan teknologi baru yang berkaitan dengan astronomi dan fisika, yang nantinya membuka peluang karir di bidang tersebut. Dalam konteks pekerjaan, kemajuan dalam teknologi superkomputer dan analisis data besar seperti ini menciptakan permintaan untuk para profesional dengan keterampilan di bidang teknik komputasi, fisika, dan data analisis. Perusahaan teknologi dan lembaga penelitian di Indonesia yang terlibat dalam bidang STMIK (Sains, Teknologi, Matematika, dan Informatika) mungkin akan mencari lulusan dengan latar belakang ini untuk memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.Ke depan, kolaborasi internasional seperti ini dapat memberi inspirasi bagi Indonesia untuk meningkatkan investasi dalam penelitian sains dan teknologi. Hal ini penting, mengingat potensi Indonesia yang besar dalam menghasilkan talenta baru di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dengan bertumbuhnya sektor ini, diharapkan munculnya peluang kerja baru yang lebih memperkuat ekonomi berbasis pengetahuan di Indonesia.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 21 Okt 2026, 02.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)