TLDR
Dakwah digital perlu menggabungkan ajaran agama dengan teknologi untuk relevansi yang lebih baik. Digitalisasi memberikan peluang besar bagi UKM di sektor halal, meskipun akses teknologi masih menjadi tantangan. Generasi muda memiliki kesempatan untuk berkarir di bidang teknologi dan inovasi yang berkaitan dengan produk halal. Pomodo.id - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa dakwah di era digital tidak cukup hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Launching dan Sosialisasi Program DAI Sejuta Mimbar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Jumat (17/10/2026).Menurut Arif yang juga Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), tujuan utama dakwah adalah transformasi, yakni mendorong perubahan menuju kemajuan dan membantu menyelesaikan masalah umat. Ia menilai para calon dai perlu memahami perubahan dunia yang berlangsung cepat, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga perkembangan teknologi. Karena itu, generasi muda dalam ekosistem dakwah diajak memadukan nilai-nilai Al-Quran dengan sains, teknologi, dan literasi digital agar konten dakwah digital relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, termasuk persoalan lingkungan, kesehatan, dan tantangan sosial.Arif juga menekankan pentingnya pembentukan karakter sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ia merujuk penelitian ekonom peraih Nobel, James Heckman, yang menyoroti pentingnya investasi pada pendidikan anak usia dini bagi pembentukan karakter, keterampilan hidup (life skills), keterampilan interpersonal (soft skills), dan kemampuan sosial (social skills). Menurut Arif, pengetahuan ilmiah dan nilai-nilai keagamaan perlu disampaikan secara berdampingan; sains membantu manusia memahami ayat-ayat kauniah, yaitu tanda kebesaran Allah di alam semesta, sementara ayat-ayat tanziliah merujuk pada wahyu yang diturunkan, termasuk Al-Quran.Dalam kesempatan yang sama, Anggota Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Harry Alexander menyampaikan bahwa generasi Z dan milenial memiliki posisi strategis dalam membentuk ekosistem konten digital di Indonesia. Berdasarkan riset kerja sama BPKH dengan BRIN, platform digital dan media sosial berpengaruh besar terhadap generasi Z, sehingga membuka peluang untuk mendorong anak muda menjadi kreator konten yang menyebarkan informasi positif di bidang keagamaan, kebangsaan, dan literasi keuangan.Harry menjelaskan, BPKH ingin mendorong pergeseran dari konsumsi konten digital menuju produksi konten yang lebih berkualitas, dengan menargetkan produksi 10 ribu video pendek untuk memperluas edukasi melalui media digital. Ia juga menyinggung rencana penerapan transaksi nontunai di Arab Saudi pada 2028 sebagai alasan pentingnya meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi layanan haji yang semakin terdigitalisasi, serta mengajak generasi muda memperluas makna perencanaan keuangan, termasuk mempersiapkan ibadah haji.Melalui Program DAI Sejuta Mimbar, Arif dan BPKH berharap lahir generasi dai sekaligus kreator konten yang memadukan nilai keagamaan, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat literasi digital masyarakat serta menciptakan ruang digital yang lebih produktif menuju Indonesia Emas 2045.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 17 Okt 2026, 11.47 WIB
Sumber: [BRIN (brin.go.id) ↗](https://brin.go.id)
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)