TLDR
Penggunaan vape dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru di antara mantan perokok. Vape memiliki hubungan yang signifikan dengan meningkatnya angka kematian akibat kanker paru-paru. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan hubungan kausal antara vaping dan risiko kanker. Pomodo.id - Risiko kanker paru-paru meningkat bagi mantan perokok yang beralih ke vape, liku-liku kesehatan yang harus dipertimbangkan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Seoul National University dan diterbitkan dalam Nature Medicine menjelaskan adanya kaitan yang signifikan antara penggunaan perangkat non-tembakau seperti vape dengan risiko pengembangan kanker paru-paru. Penelitian ini menganalisis data kesehatan anonim dari lebih dari 4,5 juta orang dewasa Korea yang dibagi menjadi tiga kelompok utama: perokok aktif, mantan perokok jangka pendek, dan mantan perokok jangka panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang beralih ke vaping setelah berhenti merokok mengalami kanker paru-paru dengan tingkat 56 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang sepenuhnya berhenti merokok.Temuan ini menunjukkan bahwa insiden kematian akibat kanker paru-paru di antara pengguna vape hampir dua kali lipat, dengan tingkat kematian terkait kanker paru-paru 91 persen lebih tinggi dibandingkan dengan non-pengguna vape. Meskipun hasil penelitian ini menarik perhatian, terdapat sebuah kelompok penting yang tidak termasuk dalam studi, yakni mereka yang terjebak dalam vaping tanpa mencoba merokok terlebih dahulu. Penelitian ini menyoroti potensi bahaya dari vaping bagi mantan perokok, serta memperingatkan konsekuensi kesehatan yang serius bagi mereka yang mempertimbangkan vaping sebagai alternatif.
Vaping adalah praktik menggunakan perangkat elektronik untuk menghirup aerosol yang biasanya mengandung nikotin, serta berbagai bahan kimia lainnya, tetapi tanpa membakar tembakau. Banyak orang menganggap vaping sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan merokok, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa vaping mungkin tidak seaman yang diyakini. Ini penting karena remaja dan dewasa muda yang mempercayai bahwa vaping mengurangi risiko kesehatan sebenarnya dapat menghadapi risiko kanker yang lebih tinggi.
Perkembangan ini membawa sejumlah implikasi bagi pembaca muda Indonesia. Mengingat jumlah pengguna e-rokok di seluruh dunia mencapai sekitar 100 juta, dan dengan peningkatan risiko kesehatan ini, mungkin saatnya memikirkan tentang kesehatan jangka panjang dibandingkan hanya kebiasaan saat ini. Dalam konteks Indonesia, di mana pemahaman mengenai kesehatan dan kebiasaan merokok/myth kesehatan penting, temuan ini harus menyoroti perlunya pendidikan kesehatan yang lebih baik serta kebijakan publik untuk menanggapi tren vaping di kalangan generasi muda.Jejak dampak temuan ini juga terlihat dalam cara mereka yang berencana untuk memasuki dunia kerja. Karyawan muda mungkin perlu lebih dari sekadar keterampilan teknis, tetapi juga pengetahuan mengenai risiko kesehatan terkait dengan pilihan gaya hidup yang mungkin dihadapi. Kesadaran akan bahaya ini dapat mempengaruhi cara mereka menjalin hubungan di lingkungan sosial, serta cara mereka memandang kesehatan di masa depan, membuat mereka lebih cerdas dalam membuat keputusan terkait kesehatan dan gaya hidup sehari-hari.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 17 Okt 2026, 00.06 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)