TLDR
Sistem sensor serat optik dapat mendeteksi sinyal akustik di atas 100 kHz untuk memantau wadah bahan bakar nuklir. Pengujian dilakukan di Idaho National Laboratory menggunakan wadah bahan bakar nuklir tiruan untuk mengevaluasi sensitivitas sistem. Proyek ini memerlukan pendanaan lebih lanjut untuk mengevaluasi daya tahan dan stabilitas sistem sebelum digunakan secara komersial. Pomodo.id - Para peneliti di Universitas Pittsburgh baru-baru ini berhasil mengembangkan sistem pemantauan berbasis serat optik yang mampu mendeteksi sinyal akustik di atas 100 kilohertz (kHz), yang hampir lima kali lipat dari frekuensi yang dapat dicapai sistem konvensional lainnya. Ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam upaya memantau keretakan dan korosi pada kanister penyimpanan bahan bakar nuklir. Teknologi ini, yang dikembangkan bersama startup Sensible Photonics dari Pittsburgh, telah diuji di Laboratorium Nasional Idaho (INL) pada bulan September.Pengujian dilakukan dengan menggunakan kanister bahan bakar nuklir tiruan di mana para peneliti berusaha untuk mendeteksi getaran dan menentukan lokasi sumber suara. Sistem ini dirancang untuk memantau kanister baja yang menampung bahan bakar nuklir bekas. Dengan teknologi ini, operator bisa mendeteksi sinyal akustik yang terkait dengan perkembangan keretakan sebelum keretakan tersebut mengancam integritas kanister. Uji coba ini berlangsung dari 8 hingga 11 September dengan berbagai konfigurasi sensor untuk menilai sensitivitas sistem, dan didukung finansial oleh Departemen Energi Amerika Serikat.Meskipun hasil uji coba menunjukkan potensi besar, terdapat tantangan dalam penerapan teknologi ini. Saat ini, sistem ini belum diintegrasikan dengan kanister penyimpanan yang sudah ada. Selain itu, ada batasan dalam hal kondisi lingkungan di mana sistem ini akan beroperasi. Penting untuk memastikan bahwa sistem ini dapat berfungsi secara efektif di semua kondisi yang mungkin dihadapi oleh kanister penyimpanan di lapangan yang beragam.
Sistem fiber-optik adalah teknologi yang menggunakan serat kaca atau plastik untuk mentransmisikan sinyal cahaya. Dalam konteks ini, sistem fiber-optik digunakan untuk mendeteksi getaran yang dapat mengindikasikan kerusakan pada kanister penyimpanan bahan bakar nuklir. Ini penting karena, meskipun bahan bakar telah dikeluarkan dari reaktor, ia masih menghasilkan panas dan berpotensi merusak wadahnya. Sering kali, ada kesalahpahaman bahwa hanya radiasi yang menjadi fokus perhatian dalam penyimpanan bahan bakar nuklir, namun suhu dan ketahanan fisik juga sangat penting.
Kehadiran teknologi pengawasan seperti ini dapat menjadi peluang signifikan bagi kalangan muda di Indonesia. Dalam konteks profesional, pengembangan ini membuka kemungkinan untuk karier baru dalam bidang teknik dan energi, khususnya dalam pengelolaan teknologi nuklir yang berkelanjutan dan aman. Bagi para mahasiswa atau fresh graduate yang tertarik pada energi terbarukan atau teknologi nuklir, keahlian dalam pemantauan dan analisis sistem seperti ini akan menjadi nilai tambah dalam dunia kerja.Dengan meningkatnya kebutuhan untuk penyimpanan dan pengelolaan bahan bakar nuklir yang aman, inovasi ini dapat berkontribusi pada keamanan energi di masa depan. Selain itu, ini juga menunjukkan bagaimana teknologi canggih dapat diterapkan untuk meningkatkan keselamatan dalam industri nuklir. Semua ini penting bagi Indonesia yang mulai menjajaki potensi energi nuklir sebagai bagian dari solusi terhadap masalah ketahanan energi dan perubahan iklim di masa mendatang.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 16 Okt 2026, 08.05 WIB
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)