TLDR
Penggunaan sepertiga dosis pupuk dapat meningkatkan hasil gabah tanpa mengorbankan panen. Teknologi Smart Farm System dapat membantu petani meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Pendidikan dan adopsi teknologi pertanian baru penting untuk masa depan keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia. Pomodo.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Temu Lapang Pengembangan Demplot Pupuk NPK Slow Release Fertilizer (SRF) Formula A dan Formula B di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan ini menguji anggapan sebagian petani bahwa penggunaan pupuk dalam jumlah besar merupakan kunci menghasilkan padi yang subur dan produktif.Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, mengajak petani memahami cara kerja pupuk di dalam tanah dan cara menghemat, bukan sekadar menambah dosis. Ia menyebut petani Sidowayah selama ini memakai urea, Ponska, dan sejenisnya hingga sekitar tiga kali lipat takaran standar. "Kalau tidak pakai pupuk berlebih, tanaman tidak tumbuh dan berbuah. Itu anggapan petani selama ini," ujarnya.SRF pada dasarnya adalah pupuk urea yang dilapisi tujuh jenis bahan alami, salah satunya biochar. Lapisan tersebut membuat unsur hara dilepaskan secara perlahan sehingga penggunaannya lebih efisien.Uji coba dilakukan di dua lahan Gapoktan Desa Sidowayah, yaitu Sumber Agung dan Agung Rejeki, masing-masing seluas 3.300 meter persegi atau total 6.600 meter persegi. Urea SRF yang digunakan hanya sekitar sepertiga dari takaran yang biasa dipakai petani. Hasilnya, pH tanah naik 75 persen sehingga tanah lebih gembur, dan jumlah anakan padi meningkat di atas 64 persen dengan batang kokoh serta tidak mudah roboh.Hasil pengukuran pH tanah pada petak Formula B sebesar 6,3, petak Formula A sebesar 5,6, sedangkan petak pemupukan petani sebesar 5,3. Berdasarkan penimbangan berat gabah panen per petak ubinan (2,5 m x 2,5 m), Formula A menghasilkan 5,6 kilogram gabah kering panen (gkp), Formula B 6,0 kg gkp, dan pemupukan petani 4,0 kg gkp.Manfaat SRF juga dirasakan dari sisi biaya. Pemupukan yang biasanya dilakukan tiga hingga empat kali cukup dilakukan sekali di awal tanam, dengan selisih biaya diperkirakan Rp200.000 hingga Rp300.000 untuk setiap lahan 3.300 meter persegi. Gabah dari demplot bahkan ditawar penebas Rp7.600 per kilogram, lebih tinggi Rp300 dari harga pasar Rp7.300 per kilogram; untuk panen dua ton, selisihnya setara sekitar Rp600.000.Para petani telah dilatih membuat pupuk NPK-SRF secara mandiri. Bahan disediakan BRIN, sedangkan tenaga dan peralatan berasal dari petani. Demplot yang kini seluas 6.600 meter persegi direncanakan diperluas menjadi 5 hektare dengan melibatkan empat kelompok tani dalam satu desa. BRIN bersama petani juga akan mengkaji pengembangan unit usaha pupuk berbasis masyarakat, mulai dari pabrik skala kecil, peralatan teknologi, manajemen operasional, hingga kelembagaan.Kegiatan ini melibatkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten, BPP Kecamatan Polanharjo, KDMP Sidowayah, Gapoktan Desa Sidowayah, serta kelompok tani dan petani setempat.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 16 Okt 2026, 00.02 WIB
Sumber: [BRIN (brin.go.id) ↗](https://brin.go.id)
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)