TLDR
Mahkota Dewa memiliki ketahanan tinggi terhadap radiasi, membuka peluang untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Diperlukan pelatihan dan sumber daya untuk menerapkan teknologi radiasi dalam pertanian agar lebih diterima oleh petani. Perkembangan ini menciptakan peluang karir bagi generasi muda di bidang penelitian pertanian dan obat-obatan. Pomodo.id - Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa Mahkota Dewa, sebuah tanaman obat yang umum digunakan di Indonesia, dapat bertahan hingga dosis radiasi 10 kGy. Temulawak, tanaman obat lainnya, ternyata jauh lebih rentan terhadap radiasi. Temuan ini berpotensi mengubah pemanfaatan tanaman obat dalam pengobatan dan penelitian ilmiah di Indonesia.Dalam studi ini, Mahkota Dewa menunjukkan tingkat radioresistensi yang tinggi, yang berarti tanaman ini dapat bertahan di lingkungan berpendingin radiasi yang ekstrem. Radiasi terukur dalam kilogray (kGy) digunakan sebagai standar nasional untuk menilai ketahanan tanaman. Dengan kemampuan tahan terhadap 10 kGy, Mahkota Dewa dapat memberikan dorongan lebih untuk penelitian lebih lanjut di bidang pertanian dan farmasi. Sebaliknya, temulawak, yang selama ini dianggap memiliki banyak manfaat kesehatan, menunjukkan sensitivitas yang lebih besar terhadap radiasi, membuatnya kurang ideal untuk pengembangan varietas baru yang membutuhkan ketahanan lebih tinggi.Namun, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Meskipun penelitian ini menunjukkan hasil positif untuk Mahkota Dewa, proses pengujian dan aplikasi radiasi pada tanaman tidak sepenuhnya diterima secara luas dalam praktek pertanian konvensional. Para petani dan ilmuwan mungkin membutuhkan lebih banyak pelatihan dan sumber daya untuk menerapkan teknologi baru ini secara efektif. Selain itu, penggunaan radiasi dalam pertanian sering kali menimbulkan stigma dan pertanyaan mengenai keamanan bagi konsumen.Bagi para pemuda di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru dalam bidang penelitian dan pengembangan tanaman obat. Dengan ketahanan Mahkota Dewa terhadap radiasi, ada kemungkinan untuk memperkenalkan varietas baru yang dapat meningkatkan produksi tanaman obat tanpa harus khawatir tentang kerusakan akibat radiasi. Ini juga menciptakan potensi karir bagi mereka yang tertarik dalam penelitian pertanian, teknologi pangan, dan pengobatan berbasis tanaman. Di masa depan, generasi muda dapat berkolaborasi dengan BRIN untuk mengembangkan produk berbasis tanaman yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan yang lebih besar.
Mahkota Dewa, atau dalam bahasa Latin dikenal sebagai Phaleria macrocarpa, adalah tanaman obat yang kaya akan senyawa aktif berpotensi sebagai anti-inflamasi dan anti-kanker. Tanaman ini telah lama digunakan di Indonesia untuk berbagai keperluan kesehatan. Meski dikenal memiliki banyak manfaat, banyak orang meragukan efektivitasnya tanpa adanya dukungan ilmiah yang memadai. Penelitian BRIN menunjukkan bahwa tanaman ini bukan hanya bermanfaat secara tradisional, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala lebih luas dengan penggunaan teknik pertanian modern.
Perkembangan ini menunjukkan pentingnya penelitian ilmu pengetahuan untuk memahami tanaman obat secara mendalam, mendukung kebutuhan kesehatan masyarakat, dan meningkatkan daya saing Indonesia di bidang farmasi. Dengan dukungan dari penelitian, diharapkan produk kesehatan berbasis Mahkota Dewa dapat diintegrasikan dalam praktik medis lokal dan, pada gilirannya, menghasilkan solusi efektif untuk tantangan kesehatan.---
Diterbitkan oleh Pomodo · Redaksi Pomodo
Terbit: 9 Okt 2026, 10.37 WIB
Sumber: [BRIN (brin.go.id) ↗](https://brin.go.id)
Ditulis dengan bantuan AI dan diperiksa akurasinya terhadap sumber.
Menemukan kesalahan? Hubungi redaksi → [pomodo.id/contact](https://pomodo.id/contact)