TLDR
Proses pemungutan suara mengenai pengakuan epoch Anthropocene dipertanyakan oleh beberapa peneliti. Komite IUGS menolak proposal untuk mengakui Anthropocene sebagai epoch baru, menciptakan perdebatan di kalangan geolog. Ada seruan untuk transparansi dan tinjauan independen terhadap proses pemungutan suara untuk menjaga kepercayaan publik. Pomodo.id - Sebagian besar ilmuwan sedang terlibat dalam perdebatan tentang era geologis bangaan manusia, atau yang dikenal sebagai 'Antroposen'. Dalam dua tahun terakhir, kontroversi ini muncul kembali setelah International Union of Geological Sciences (IUGS) menolak proposal untuk menetapkan era saat ini sebagai antroposen. Beberapa peneliti berpendapat bahwa keputusan ini diambil tanpa transparansi yang memadai, dan mereka percaya ada dokumen yang belum dipublikasikan yang menunjukkan bahwa penolakan tersebut tidak sah.Jürgen Renn, seorang sejarawan ilmu pengetahuan di Max Planck Institute of Geoanthropology, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut penting dan harus jelas, mencerminkan kebutuhan akan transparansi dalam proses penentuannya. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Earth’s Future, ia dan rekan-rekannya mendesak IUGS untuk merilis dokumen penting terkait pemungutan suara ini dan meminta tinjauan independen atas proses untuk menjaga kepercayaan publik. Di sisi lain, Adele Bertini, seorang ahli geologi di Universitas Florence, yang terlibat langsung dalam proses pemungutan suara, menyatakan kesediaan untuk membuka dokumen tersebut demi mendukung warisan penelitian ilmiah yang telah dilakukan.
Antroposen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah periode baru dalam sejarah Bumi, yang ditandai oleh dampak besar aktivitas manusia terhadap lingkungan dan geosfer. Konsep ini penting karena menunjukkan peran manusia dalam perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan sistem ekologi di Bumi. Pemahaman yang benar tentang Antroposen dapat membantu kita menyadari efek jangka panjang dari tindakan kita dan pentingnya tindakan kolektif untuk mengatasi masalah lingkungan. Beberapa orang beranggapan bahwa perubahan yang terjadi adalah natural, tetapi bukti-bukti menunjukkan bahwa perilaku manusia memiliki kontribusi yang signifikan.
Perdebatan mengenai pengakuan antroposen menciptakan ketegangan dalam komunitas ilmiah dan menunjukkan potensi kelemahan dalam proses pengambilan keputusan internasional. Jika para peneliti benar bahwa ada masalah dengan transparansi dan legitimasi keputusan, hal ini dapat mengganggu kepercayaan publik terhadap sains, penting bagi generasi muda menyadari bahwa proses pengambilan keputusan ilmiah tidak selalu bersih dari kontroversi. Memiliki pemahaman yang kritis dan bersikap proaktif terhadap informasi merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki, terutama bagi mereka yang memasuki dunia kerja di bidang terkait lingkungan dan sains.Bagi para pemuda Indonesia, perdebatan ini berarti bahwa mereka dapat berpartisipasi lebih aktif dalam diskusi mengenai perubahan lingkungan dan dampaknya di negara mereka. Indonesia, sebagai negara kepulauan, menghadapi ancaman nyata akibat perubahan iklim, yang berpotensi mempengaruhi sektor-sektor penting seperti pertanian dan pariwisata. Karenanya, memiliki pengetahuan yang baik tentang isu-isu ini tidak hanya relevan dalam konteks global, tetapi juga sangat penting bagi masa depan mereka sendiri dan lingkungan di sekitar mereka. Masyarakat Indonesia, khususnya yang berambisi untuk berkarir di bidang teknologi dan lingkungan, perlu mendalami lebih jauh isu-isu ini.Sejumlah peluang karir muncul di pekerjaan yang berkaitan dengan penelitian dan pengelolaan lingkungan, serta pengembangan teknologi ramah lingkungan. Mengetahui bagaimana industri ini beroperasi dan tantangan yang dihadapinya akan memberi keuntungan bagi mereka di masa depan, terutama dalam menghadapi isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan di Indonesia.