TLDR
Satlyt mengembangkan perangkat lunak untuk memungkinkan banyak satelit berbagi pekerjaan komputasi di luar angkasa. Perusahaan tidak berencana membangun spacecraft sendiri, melainkan fokus pada pengembangan perangkat lunak yang dapat digunakan pada satelit dari berbagai perusahaan. Satlyt berharap untuk aktif di 20% satelit pada akhir dekade ini, saat lebih banyak satelit dilengkapi dengan GPU. Pomodo.id - Satlyt, sebuah perusahaan yang dipimpin oleh Rama Afullo, diluncurkan untuk menciptakan software revolusioner yang dapat mengatur komputasi di satelit. Afullo, yang sebelumnya bekerja di Google dan SpaceX, mengidentifikasi potensi besar dalam pemanfaatan komputer di luar angkasa, terutama untuk proyek-proyek besar yang memerlukan pengolahan data kompleks. Perusahaan ini telah berhasil mengumpulkan dana awal sebesar $8 juta untuk memulai operasinya. Dalam pengembangan terbarunya, Satlyt siap meluncurkan software mereka pada roket SpaceX yang juga membawa prototipe pusat data luar angkasa dari Google, Project Suncatcher, yang menandai langkah maju dalam inovasi teknologi di luar angkasa.Salah satu keunggulan dari software Satlyt adalah kemampuannya untuk memungkinkan banyak satelit bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan komputasi besar. Dalam hal ini, Satlyt tidak akan membangun pesawat luar angkasa seperti SpaceX, tetapi fokus pada pengembangan perangkat lunak yang fungsional. Afullo membandingkan pendekatannya dengan perusahaan-perusahaan seperti VMWare dan Snowflake, yang memungkinkan pengguna melakukan komputasi kompleks tanpa harus mengkhawatirkan infrastruktur fisik yang mendasarinya. Melihat antusiasme dan dukungan untuk pusat data orbital, terutama dari SpaceX, Satlyt berada di posisi yang menguntungkan untuk sukses di industri yang sedang berkembang ini.Namun, tantangan besar masih menghadang di ranah ini. Meskipun Satlyt dan perusahaan-perusahaan lain berlomba-lomba dalam inovasi, sejumlah skeptisisme terkait pengoperasian pusat data luar angkasa tetap ada. Pertanyaan mengenai keamanan, biaya yang dibutuhkan untuk memelihara dan mengoperasikan satelit, serta dampak lingkungan dari peluncuran yang meningkat, ingin dijawab sebelum mencapai skala komersial yang signifikan. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa, meskipun ada peluang yang menjanjikan, kesuksesan di masa depan mungkin tidak secepat yang diharapkan.Perkembangan ini sangat berpotensi untuk memengaruhi peluang karir dan sektor teknologi di Indonesia. Saat industri luar angkasa dan komputasi meningkat, akan ada kebutuhan untuk tenaga kerja terampil dalam pengembangan software, analisis data, dan AI di level yang lebih tinggi. Bagi generasi muda seperti mahasiswa dan lulusan baru di Indonesia, ini adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan keterampilan dalam teknologi tinggi dan engineering. Memiliki pengetahuan tentang komputasi luar angkasa atau perangkat lunak untuk satelit bisa menjadi keunggulan yang menarik bagi pemberi kerja di masa depan.
Proyek Suncatcher adalah inisiatif dari Google untuk membangun pusat data di luar angkasa, yang bertujuan untuk memanfaatkan batasan ruang angkasa untuk komputasi ukuran besar. Hal ini penting karena dapat mempercepat proses pengolahan data dan mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk komputasi di Bumi. Kesalahpahaman umum adalah bahwa proyek semacam ini hanya untuk perusahaan besar; sebenarnya, inisiatif ini membuka peluang baru di sektor teknologi dan bisa menciptakan lapangan kerja baru untuk insinyur dan para teknolog.
Secara keseluruhan, keberadaan Satlyt menandakan kemajuan penting dalam cara kita memikirkan teknologi luar angkasa dan aplikasinya di bumi. Investasi besar dalam komputasi luar angkasa bisa menjadi petunjuk akan munculnya lapangan kerja baru dan inovasi yang akan membawa Indonesia ke dalam ekosistem global yang lebih luas. Generasi muda Indonesia yang menguasai keterampilan dalam teknologi dan inovasi siap untuk mengambil peran yang lebih besar dalam revolusi digital dan eksplorasi luar angkasa yang sedang berlangsung.