TLDR
Penerapan AI dalam perencanaan dapat mengurangi limbah dan emisi yang tidak terukur dalam laporan keberlanjutan. Pemilihan model AI yang tepat untuk tugas tertentu dapat mengurangi jejak karbon lebih efisien daripada hanya fokus pada konsumsi energi. Pentingnya kolaborasi antara tim keberlanjutan dan rantai pasokan untuk mengoptimalkan penggunaan AI demi keberlanjutan. Pomodo.id - Masyarakat kini mulai menyadari bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk mengatasi isu lingkungan yang krusial, bukan hanya sebagai sumber masalah. Dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), terdapat peluang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi limbah dalam berbagai industri, seperti retail dan manufaktur. AI dapat membantu dalam pengambilan keputusan terkait permintaan, pengadaan, dan koordinasi jaringan, yang berarti lebih sedikit limbah yang dihasilkan dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan untuk operasionalnya.Data terbaru dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa pusat data yang mendukung AI menyumbang sekitar 1% dari emisi karbon dioksida terkait energi secara global. Sementara angka ini memang penting untuk diperhatikan, perlu diingat bahwa limbah makanan memiliki dampak yang jauh lebih besar, berkontribusi antara 8% hingga 10% dari total emisi gas rumah kaca global. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap keberlanjutan perlu difokuskan pada pengurangan limbah mendesak di sektor-sektor yang tidak secara langsung terlihat.Namun, ada kontradiksi dalam upaya tersebut. Meskipun AI dapat mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi, ada tantangan yang harus dihadapi terkait penerapan dan biaya infrastruktur yang diperlukan. Contohnya adalah bahwa investasi di teknologi AI dan pusat data masih lebih tinggi dibandingkan keuntungan langsung dalam pengurangan emisi. Selain itu, tidak semua perusahaan memiliki sumber daya untuk mengadopsi teknologi ini, yang menyebabkan kesenjangan dalam implementasi di antara perusahaan besar dan kecil.
Pusat Data dan Emisi Karbon
Pusat data adalah fasilitas yang digunakan untuk menyimpan dan mengelola komputasi serta data. Mereka memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi, termasuk AI. Meskipun pusat data menyumbang sekitar 1% dari emisi karbon global, limbah dalam sektor lainnya jauh lebih merusak. Dengan mengoptimalkan penggunaan pusat data melalui AI, bisa didapatkan pengurangan signifikan dalam penggunaan sumber daya dan emisi. Ini menandakan bahwa perhatian perlu lebih kepada bagaimana menggunakan teknologi ini secara efektif daripada hanya fokus pada konsumsi energinya.
Untuk generasi muda di Indonesia, perubahan ini membawa peluang baru dalam karier dan keterampilan yang bisa dipelajari. Dengan meningkatnya kebutuhan akan penggunaan AI di banyak industri, ini menciptakan permintaan untuk tenaga kerja yang memiliki kemampuan dalam analisis data dan pemrograman. Seiring perkembangan teknologi, mereka yang menguasai keterampilan ini tidak hanya memiliki peluang kerja yang lebih baik, tetapi juga kontribusi dalam memecahkan masalah lingkungan yang mendesak.Dalam konteks Indonesia, saat ekonomi digital diproyeksikan akan tumbuh lebih dari 20% dari total PDB pada tahun 2045, keterlibatan dalam sektor teknologi dan AI akan semakin penting. Mahasiswa dan lulusan baru yang terampil dalam AI berpotensi mengambil peran besar dalam mendorong keberlanjutan melalui inovasi yang mengurangi emisi dan limbah. Namun, tanpa dukungan yang memadai, baik dari pemerintah maupun sektor swasta, akan muncul kesenjangan dalam kapasitas dan akses terhadap teknologi ini.