TLDR
Gregory Scholes berpandangan bahwa fenomena 'kuantum' dalam biologi mungkin berasal dari jaringan klasik yang kompleks dan bukan dari mekanika kuantum itu sendiri. Meskipun harapan awal mengenai peran efek kuantum dalam kehidupan tampak menjanjikan, bukti koherensi kuantum yang bertahan lama dalam sistem biologis masih belum ada. Penelitian tentang biologi kuantum menunjukkan bahwa ada kemungkinan untuk memahami perilaku klasik dan kuantum melalui matematik yang sama, meskipun dasar fisiknya berbeda. Pomodo.id - Peneliti dalam bidang biologi kuantum sedang menggali cara untuk memahami bagaimana organisme dapat memanfaatkan sifat-sifat aneh dari dunia kuantum dalam konteks hidup yang klasik. Penemuan terbaru menunjukkan bahwa proses fotosintesis pada tanaman bisa jadi menggunakan efek kuantum yang disebut koherensi, yang memberikan efisiensi luar biasa dalam mengubah cahaya menjadi energi kimia. Peneliti seperti Gregory Scholes dari Universitas Princeton telah melakukan eksperimen yang menguatkan ide ini, berpendapat bahwa meskipun sel hidup merupakan lingkungan yang hangat dan basah, tetap mungkin bagi mereka untuk mempertahankan, bahkan memanfaatkan, keadaan kuantum yang rapuh dalam proses penting seperti fotosintesis.Dalam proses fotosintesis, organisme menggunakan pigmen dan protein spesialis untuk menangkap cahaya dengan tingkat efisiensi kuantum yang hampir sempurna, mengubah hampir setiap foton yang diterima menjadi energi kimia yang berguna. Ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak hanya berkembang di skala makro, tetapi dapat meresap hingga ke level kuantum. Tetapi meskipun demikian, teori ini menemui tantangan; banyak peneliti skeptis tentang kemampuan sel untuk mempertahankan ketahanan kuantum dalam kondisi fisiologis yang tidak cocok. Ada keraguan akan apakah kehidupan yang kita lihat benar-benar dapat memelihara keadaan kuantum atau tidak.Pengembangan dalam penelitian ini membuka peluang baru di bidang teknologi dan pendidikan. Bagi pemuda Indonesia, penemuan ini bisa berarti munculnya karir baru dalam bidang bioteknologi yang berfokus pada penerapan konsep kuantum dalam teknik dan sains. MoU internasional yang sering diadakan untuk penelitian biologi kuantum juga membuka jalan bagi kerja sama di bidang teknologi dan pendidikan, terutama dengan negara-negara yang menginvestasikan sumber daya besar dalam penelitian ini. Seiring dengan berkembangnya keahlian ini, ada potensi kerja yang meningkat di sektor penelitian dan pengembangan, terutama dalam biologi, teknologi hijau, dan teknologi energi terbarukan.
Koherensi dalam konteks kuantum mengacu pada keadaan di mana partikel atau sistem kuantum berinteraksi sedemikian rupa sehingga memelihara entanglement dan mengizinkan manifestasi sifat-sifat kuantumnya. Dalam istilah sederhana, ini mirip dengan sinkroni antara gelombang laut yang bergerak secara harmonis. Pada tingkat kehidupan, koherensi menjelaskan mengapa sel hidup dapat mempertahankan keadaan kuantum yang diperlukan untuk efisiensi fotosintesis yang luar biasa meskipun berada dalam kondisi lingkungan yang klasik atau tidak sesuai untuk fenomena kuantum.
Penemuan ini mencerminkan masa depan yang menjanjikan di mana pemuda Indonesia bisa terlibat dalam inovasi yang tidak hanya meningkatkan kualitas hidup dalam konteks lingkungan, tetapi juga mendigitalisasi industri biologi. Dengan biaya penelitian di bidang ini yang bisa mencapai jutaan dolar, kemitraan lokal dan internasional akan menjadi penting, dan pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ini dapat diintegrasikan ke dalam program pendidikan di tingkat universitas. Sejalan dengan berbagai program pemerintah yang mendorong teknologi ramah lingkungan dan efisiensi energi, penelitian di bidang ini membuka jalan bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pemecahan masalah global serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.